Jumat, 02 Oktober 2015

Menemukan Makna di Balik Realitas Pasar

Menemukan Makna di Balik Realitas Pasar
Oleh Dai Within Daniel

I. Latar Belakang Pemilihan Tempat
            Pasar Alok merupakan pasar harian yang berlokasi di pinggir kota Maumere, Sikka. Biasanya, pasar alok  dibuka sejak pagi hari dan tidak jarang berlangsung hingga sore bahkan malam hari.  Pasar ini selalu ramai setiap hari sebab pasar Alok menjadi salah satu pasar di kota Maumere yang menyediakan seluruh kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari. Dan karena itu, pasar ini selalu mendapat perhatian dari pihak pemerintah daerah.
            Secara pribadi, sengaja saya memilih tempat ini sebagai objek pengamatan saya karena beberapa alasan yang bagi saya cukup membantu saya. Pertama, saya sering mendapat giliran belanja kebutuhan unit dan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk membuat pengamatan. Kedua, pasar Alok terdiri dari penjual serta pembeli yang memiliki latar belakang serta status social yang berbeda-beda. Hal itu akan membuat kualitas pengamatan saya lebih baik serta tidak bersifat subjektif. Ketiga, pasar Alok juga mudah dijangkau oleh kendaraan bermotor karena sarana infrastruktur yang memada

II. Pengalaman Bersama
            Terhitung sejak diberi mandat untuk membuat pengamatan, saya sudah turun ke lapangan sebanyak tiga kali sebagaimana yang disepakati bersama. Dalam tiga pengamatan ini, tentu saja sasarannya berbeda-beda kendati masih pada lokasi yang sama, yakni pasar Alok.  Berikut nama-nama pedagang yang menjadi obyek pengamatan saya.
1.      Bpk Karolus Pati (Pedagang Lombok)
2.      Bpk Yohanes (Pedagang ayam)
3.      Ibu Katarina Martha (Pedagang sayur)
Ketiga mereka adalah pedagang harian yang berasal dari kampung-kampung yang hanya turun ke kota manakala mereka hendak memperdagangkan hasil jerih payah mereka. Selanjutnya, mereka tidak bisa berjualan bila hasil kebun atau hasil ternak mereka tidak cukup untuk dipasarkan. Hal ini
lalu membuat saya menarik sebuah kesimpulan bahwa pasar menjadi tempat bagi mereka untuk mengais hasil keringat mereka. Pasar menjadi lahan yang memberi kehidupan bagi mereka, tempat di mana mereka dapat mendapatkan sesuatu demi kelangsungan hidup keluarga mereka. Kesimpulan itu secara langsung telah mengubah pola pikirku tentang mereka yang selama ini hidup dalam benakku. Suatu anggapan bahwa mereka terlalu malas berusaha untuk mendapatkan apa yang sebetulnya bisa mereka dapatkan lebih dari sekadar duduk berpangku tangan sambil menunggu colon pembeli yang datang menghampiri.
            Selama pengamatan ini, saya menyaksikan sebuah suasana hiruk-pikuk pasar di mana para pembeli dan penjual saling kompromi soal harga. Ada yang begitu cepat mencapai kesepakatan, namun ada yang berlarut-larut hingga  terkesan penjual keletihan mempertahankan nilai jual barang dagangannya. Bila sudah mencapai level ini, saya melihat bahwa penjual dengan berat hati melepaskan dagangannya dengan harga yang tidak proporsional. Prinsip mereka, lebih baik terjual dari pada tidak terjual sama sekali. kasihan, bukan?
            Setiap panorama yang di tampilkan di tengah pasar memang memprihatinkan. Penjual yang mungkin hanya mendapat keuntungan kecil dari seluruh hasil dagangannya pun masih ditawar-tawar oleh para calon pembeli. Hasil penjualan yang sebetulnya hanya untuk mendapatkan sesuap nasi saja masih dirampas oleh pembeli yang boleh jadi nuraninya sudah tumpul. Betapa tragisnya hidup ini jika  kita mencermati nasip hidup para pedagang kecil. Keuntungan yang sebenarnya bisa memberi mereka  sedikit kemakmuran malah direduksi oleh kepentingan perut para pembeli yang terlalu arogan. Keringat yang bercucuran di ladang bukannya membuahkan senyum di tempat mengadu nasip, malah yang terjadi justru bertolak belakang. Keringat dan kerja keras penjual di bawah terik surya oleh pembeli dianggap tidak lebih dari sekedar  mengisi waktu luang.
            Di pasar, realiatas yang seharusnya dirasa menggelisahkan justru dirasa sebagai sesuatu yang lumrah. Para penjual sudah dibiasakan sehingga mereka pun merasa terbiasa dengan situasi yang demikian. Akibatnya para pembeli dengan seenaknya saja mempermainkan harga barang. Ironis. Apalagi jika ditelusuri lebih jauh, mungkin para pembeli seperti itu lebih cocok jika diberi label brutus.  Sungguh memprihatinkan nasip para penjual di pasar Alok. Padahal, semua mereka pada umumnya adalah orang-orang kecil yang datang dari kampung-kampung terpencil. Jangan sampai hasil jualan mereka habis di biaya transportasi pergi pulang pasar.
            Kendati demikian, apa mau dikata, toh tidak semua pembeli berasal dari latar belakang keluarga serta pekerjaan yang terpandang. Karena itu, sebelum membeli mereka juga harus menyesuaikan dengan isi kantong mereka. Saya melihat bahwa tindakan saling tawar antara kedua belah pihak dimaksudkan untuk sama-sama mencari titik harga yang sesuai di antara kedua pihak ini. Harga barang dagangan pun mesti disesuaikan dengan daya beli masyarakat kecil. Tindakan seperti ini tentu saja akan sangan membantu dalam hal pencapaian kesepakatan harga. Tidak terjadi yang namanya kerugian karena nilai tukar barang yang terlalu kecil atau karena nilai tukar terlalu tinggi bagi pembeli yang datang dari masyarakat  berpengasilan rendah.

III. Kesadaran Baru
Setelah membuat pengamatan sebanyak tiga kali, tentu saja saya menemukan nilai-nilai yang kiranya boleh menjadi kesadaran baru bagi saya. Nilai-nilai tersebut secara singkat dapat saya jabarkan sebagai berikut.
1.      Nilai kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu keutamaan yang mesti dimiliki oleh saya yang adalah calon biarawan misionaris. Kemiskinan di sini masih berkaitan erat dengan kaul kemiskinan yang telah saya  ikrarkan. Itu berarti saya perlu menghargai setiap barang yang ada dalam komunitas. Kemiskinan harus menjadikan saya sebagai orang yang menerima segala yang ada dengan senang hati. Tak perlu banyak kompromi. Realitas di pasar Alok menjadi dasar pertimbangan saya untuk dapat menghayati serta menjalankan secara sungguh hakikat dari kaul kemiskinan yang telah saya ikrarkan.
2.      Pola hidup  hemat
Hidup hemat adalah salah satu cara menghargai keringat dan kerja keras orang lain. Hidup hemat menunjukkan sikap respek saya kepada mereka yang telah dengan susah paya mendatangkan segala yang saya butuhkan. Di sini, saya perlu mengingat kembali betapa susahnya para penjual di pasar Alok yang dengan penuh perjuangan mempertahankan hidup lewat barang-barang mereka yang diperdagangkan. Dengan demikian, sikap hemat membuat saya lebih menghargai perjuangan mereka.
3.      Nilai perjuangan dan pengorbanan
Situasi di pasar Alok menyadarkan saya bahwa hidup adalah sebuah perjuangan  yang harus dilalui dengan penuh pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan membuat sesesorang dapat bertahan hidup. Tanpa perjuangan dan perngorbanan, seseorang tidak dapat memperolah apa yang ia butuhkan. Para penjual di pasar Alok secara jelas telah membuktikan itu. Mereka dengan gigih berjuang di tengah situasi pasar yang sangat memprihatinkan. Itulah satu-satunya cara mereka untuk dapat bertahan hidup.

IV. Penutup
            Pengamatan yang saya buat selama tiga kali di pasar Alok semata-mata tidak sekedar menjadi pemenuhan tugas belaka, melainkan lebih dari itu. Pengamatan ini telah menghantar saya untuk melihat realitas dari sisi lain. di dalamnya, saya telah menemukan ada begitu banyak nilai-nilai hidup yang dapat saya jadikan sebagai bekal perjalanan hidup dan panggilan saya selanjutnya.



 #Tugas Sosiologi


Momentum Jeda

MOMENTUM JEDA

Dai Within Daniel
Alumnus Seminari Hokeng


Jeda merupakan sebuah kata yang begitu akrab di telinga kita. Hampir setiap hari bahkan setiap saat bisa didengar. Dalam sebuah moment rembug yang agak alot, maka jeda di ambil untuk meminimalisir kejenuhan atau mencari ide fresh dalam menghadapi kebuntuan sambil melakukan lobi-lobi terhadap pikiran yang dianggap kontra. Lebih sering, kata ini terdengar melalui siaran televisi. Bisa saja berupa siaran live pun siaran tunda, kata ini dipakai untuk sekedar rehat sejenak memberi kesempatan kepada sponsor melakukan propaganda produknya.

Suka atau tidak suka, bahkan mungkin Anda boleh sangat kesal mendengar propaganda itu yang lagi-lagi mungkin hanya menghabiskan waktu dan sedikit membuyarkan konsentrasi Anda menikmati acara tersebut, tapi dia terlanjur telah menjadi raja atas eksisnya sebuah stasiun televisi.   Di lain pihak, jeda menjadi moment yang ditunggu segelintir orang. Jeda menjadi kesempatan untuk menyusun strategi serta tindakan antisipatif untuk suatu rencana mendatang.

Dalam konteks politik, Jeda pun kini boleh dinikmati oleh masyarakat Indonesia pasca pemilihan legislatif. Sembilan april kemarin menjadi sebuah titik nadir dari pesta demokrasi hingga menuju pertarungan pilpres sembilan juli mendatang. Kendati banyak yang lolos, namun tak sedikit pula yang gugur. Melalui kalkulasi politik secara akurat, KPU akhirnya menetapkan dua pasang calon untuk maju dalam putaran pilpres. Sebuah realita yang mungkin menggembirakan serentak memedihkan.

Berbagai trik dan bahkan intrik mulai dipamerkan baik oleh para kandidat maupun oleh para pendukung yang melabelkan diri sebagai tim pemenangan paket calon dari partai pengusung. Para simpatisan pun tak ketinggalan mengambil bagian mengisi waktu jeda ini dengan caranya masing-masing, mewartakan sisi lebih dari idolanya sambil menghitung detik-detik penghujung yang sangat mendebarkan. Menyatukan tekad, menguatkan barisan sambil duduk-duduk di moting atau oring hingga di hotel-hotel berbintang seraya berbagi informasi tentang strategi dan cela lawan yang bisa diterobosi, selanjutnya bagaimana membangun skenario menghancurkan benteng pertahanan lawan politik. Riak-riak politik mulai menjelmakan diri dalam isu-isu poitik kampungan hingga badai-badai gosip ala selebrita metropolitan.

Pada tataran ini, budaya  babat membabat, libas melibas, gusur menggusur demi sebuah ambisi tendensius sepertinya sudah menjadi cara yang dihalalkan.  Terutama bagi para kandidat, semua mereka sudah saling mengumbar program dengan begitu menawan selama melakukan aksi kampanye. Bisa di bilang over convidence dan dengan “telanjang dada” mengumbar psy word “this is the best programe from the golden boys.” Tidak segan-segan pernyataan yang saling menyerang bahkan saling mendiskreditkan satu dengan yang lainnya juga menjadi sesuatu hal yang lumrah adanya. Tetapi disinilah daya gereget masing-masing kandidat  terhadang dan dituntut sebuah kreatifitas serta kearifan nan sangat untuk bisa memerdekakan diri dari jeruji-jeruji kooptasi, pengkaplingan primordialisme sempit dan intimidasi sektarian

 Para simpatisan parpol yang gugur pun tak mau ketinggalan. Berbagai aksi digalakan untuk mengganggu kenyamanan  dari dua pasang kandidat yang lolos. Entahkah itu sebuah keseriusan dengan didukung oleh bukti-bukti yang akurat tentang adanya indikasi pelanggaran melalui rekam jejak yang obyektif?  Ataukah sekedar gengsi-gengsian agar tidak kehilangan “muka” terhadap para konstituennya?

Ini hanyalah sebuah jeda. Tak perlu membuat bara dalam sekam. Politik punya cara sendiri dan pemenang punya jalan rahasia sendiri pula. Sehebat apapun sang pakar politik menganalisis dan berandai, sedahsyat apapun daya menerawang sang nujum, ia toh tetap tak berdaya ketika harus berhadapan dengan realita yang mungkin saja beda. Itulah politik, selalu mengandung misteri.
Oleh karena itu, kesempatan ini harus menjadi momentum jeda bagi kita untuk berefleksi diri. Kita mesti bisa keluar  dan terbebas dari penjara dan perbudakan penguasa yang suka akan jargon-jargon politik dari  pada mempersembahkan hidup bakti dirinya demi kejayaan negeri dan rakyat.

Sebagai pemilih, kita harus menggunakan hati nurani sebagai tameng untuk menolak rayuan dari para politisi oportunis. Sebab situasi kian menuntut kita agar menjadi pemilih yang cerdas. Jika demikian, bumi pertiwi tercinta ini tak akan lagi berwajah kusam.



#Medio April '15


Refleksi

Ada Apa Pater

By Mr D

 (Mewakili para Gabrielian)

        Siang itu, pancaran surya terlalu angkuh untuk diajak kompromi. Bias teriknya yang pecah di  atas awan-awan  seakan hendak membumihanguskan seisi ruang kelas kami. Apalagi ditambah mata kuliah teologi fundamental yang semakin hari semakin sulit untuk dipahami, entahkah karena materi yang sukar, ataukah misteri keilahian Allah yang terlampau rumit untuk dipahami oleh mahasiswa semester satu, membuat nuansa kelas hari itu terkesan kehilangan makna. 

      Kring...kring...kring…, bunyi bel pertanda kuliah telah selesai. Salah satu konfraterku menarik napas panjang. Barang kali ia tidak ingin  larut lebih lama lagi dalam kebingungan. Kendati demikaan, ada juga di antara kami yang masih merasa waktu yang ada belum cukup. Rasa penasaran mendorong mereka untuk mencermati Allah dengan segala kompleksitasnya hingga tuntas, meski dosen bersangkutan terlihat lelah memilih kata yang sah untuk membahasakan eksistensi Allah. 

    Dari kelas saya lalu bergegas menuju kamar makan di wisma kami. Sepanjang jalan saya mendapati wajah-wajah yang telihat begitu kusam, pucat, bahkan ada yang lebih parah dari itu. Barangkali bisa dibenarkan apa yang dikatakan ketua kelas kami, itu efek dari belajar filsafat dan teologi. Fenomen yang demikian telah menjadi panorama yang tidak lagi dirasa aneh saat pulang kuliah. Beruntung saya seorang SVD yang menghuni unit dalam sehingga tak perlu energi extra untuk kembali ke biara. Hanya butuh sedikit tenaga untuk naik turun tangga. Dan bagi saya, saat-saat naik turun tanggga adalah saat yang tepat untuk kembali memaknai dinamika kehidupan, sama halnya naik turun tangga.

       Karena itu, sebisa mungkin saya menemukan inspirasi saat naik maupun menuruni tiap anak-anak tangga ini. Tapi, siang itu berbeda sekali. Ketika menjajaki tiap anak-anak tangga, tepat di atas anak tangga ketiga dari yang terakhir, saya terhentak kaget dengan sebuah suara lepas yang arahnya entah dari sudut mana. Yang  jelas bunyinya, Pater Fredy kecelakaan.
Betapa kagetnya saya. Bersamaan dengan itu, langkah kaki terhenti. Sekejap rasa haus dan lapar  sirna bersama suara tadi yang menghilang. Dalam hati saya bertanya, “ada apa pater?”   Saya lalu kembali teringat  materi yang baru saja dibahas dalam perkuliahan tadi. Dalam hati saya berguman, “Allah, betapa terlampau dalam misteri-Mu  untuk kami selami”. 

      Dalam hitungan beberapa menit, saya berdiri terpaku lalu membisu seperti anak tangga yang selalu bisu dalam segala situasi. Beragam perasaan berkecamuk dalam dadaku.  Berharap apa yang saya dengar tadi hanyalah halusinasi belaka. Atau sederhananya semoga dampak kecelakaan tidak setragis bayanganku. Atau setidaknya tidak separah reaksiku saat mendengar berita yang kebenarannya pun masih dipertanyakan. Lalu bagaimana kalau betul? Pertanyaan ini semakin menambah rasa takut, cemas, hingga saya sendiri bingung siapa yang mesti dipersalahkan atas tragedi ini.

Di atas anak tangga ini, saya sadar bahwa protes terhadap takdir bukanlah solusi.

       Beberapa sama saudaraku berlarian mendapati pater di rumah sakit untuk mengetahuai secara pasti seperti apa kondisinya. Sementara saya sendiri masih terpaku pada tempat yang juga masih  sama . Saya tidak tahu, mungkin saja anak tangga yang menopangku juga turut merasakan rasa yang sama, piluh berbaur pedih. Toh, pater juga baru melewati anak tangga yang sama sesaat sebelum mengalami kecelakaan itu.

       Sengaja saya tidak memilih untuk bersama mereka ke rumah sakit karena beberapa alasan. Bukan ego apalagi skeptis-apatis, tapi saya belum siap mengamini kabar yang ‘belum pasti’ tadi.  Saya masih terus berharap semoga berita  itu salah, layaknya  sang biduan yang memilih kidung duka di musim panen. Atau politisi yang lupa bagaimana cara korupsi yang benar.
Sejam kemudian, saya coba menghubungi salah satu seniorku, Thaliz namanya, untuk mengetahui keadaan pater. Melalui sepotong sms yang saya kirim, ka’e Thalis lalu menjawab bahwa pater mengalami patah tulang pada bagian kaki kiri. 

        Membaca pesan singkat itu, dada saya menjadi kian sesak. Rasa-rasanya saya sedang berada pada posisinya pater. Ironis, tapi itulah yang kurasa. Wajarlah kalau memang demikian  sebab semua ini seperti halilintar. Hadir penuh kejutan dengan hal di luar dugaan. Apalagi pater adalah sosok yang secara pribadi sudah sangat menginspirasi saya, dan mungkin juga sama saudara anggota unit yang lain. Pater begitu dekat dengan kami dan relasi yang terjalin justru seperti kakak beradik. Itu yang kurasa! Perasaan itu begitu besar hingga saya tidak sadar kalau ‘serpihan kaca’ di sudut retinaku jatuh di atas layar handphone. Dengan tangan yang lemas, saya mengusapnya. Namun basah lagi.  Kembali saya bertanya dalam hati, “ada apa pater ?”

       Patah kaki bukan perkara mudah, apalagi  yang mengalaminya adalah seorang pastor muda. Butuh jiwa besar yang super extra. Pada level ini, saya tahu baik sosok Pater Fredy Sebho,SVD. Karena itu, semua yang mengenalnya pasti tidak meragukannya. Mungkin untuk lebih meyakinkan, lihat saja ibu kandung pater yang datang nun jauh dari Manggarai ke Maumere pada pagi hari dan langsung balik ke kampung pada sore harinya. Itu bukan berarti sang ibu kurang peduli atau kurang sayang, tapi itu secara jelas menunjukkan kepribadian putranya yang perlu diacungi jempol. Andai kata ada yang perlu dicemaskan, sudah pasti sang Ibu akan bertahan beberapa hari untuk menemani pater yang terbaring tak bardaya itu.  Pater perfek kami memang hebat dan kata orang beliau selalu begitu.

       Kecelakaan yang dialami pater terjadi saat kembali dari Maumere menuju Ledalero. Rupanya tujuan pater ke Maumere tidak lain untuk mengkonfirmasi soal sepeda motor baru yang akan dibeli pater dalam waktu dekat. Ah, sial betul, barangkat dengan sepeda motor demi sepeda motor dan  pada akhirnya jadi korban karena sepeda motor. Memang sial selalu saja sulit ditebak!  Tapi beruntunglah yang mengalaminya adalah seorang pastor. Tapi bila hal itu menimpa seorang frater, mungkin ‘sampai di situ pula’ ziarah panggilannya.

         Saat mendapat kesempatan untuk menjenguk pater, hal pertama yang saya lakukan adalah siap mental. Batin harus tegar untuk melihat secara lebih dekat apa dan bagaimana kondisi pater. Ini penting karena tak jarang ada yang mempertontonkan aksi konyol di rumah sakit. Jeleknya lagi, ada yang berniat kunjung tapi kenyataannya datang dan pulang sama saja karena tak melihat pasien yang dikunjungi dengan alasan tak sanggup melihat penderitaan pasien. Lucu, bukan? 

      Ketika tiba di rumah sakit, prasangka kengerian atas kecelakaan yang dialami pater serentak lenyap tatkala melihat pancaran ekspresi pater yang begitu riang dan gembira. Pater seakan-akan tidak menderita apa-apa, meski kakinya dililit perban dan gips yang teramat menyiksa. Pater sungguh menghipnotis kami hingga kami lupa bahwa kami sedang bersenda gurau dengan pater yang adalah seorang pasien, pasien yang mengalami patah kaki, bukan sakit demam apalagi hanya masuk angin biasa. Saya lalu berpikir seandainya semua pasien bisa seperti pater, mungkin bisa  sedikit memberi keringanan bagi pihak keluarga dan tim medis yang menanganinya.

     Menariknya lagi, sebelum pamitan pulang, saya sempat membaca tulisan dibalik baju yang dikenanakan pater. Ternyata baju yang sama dikenakaan juga pater saat mengalami kecelakaan itu. Bunyi tulisan pada baju tersebut yakni, “Ah Tuhan ”
Percaya atau tidak, tulisan itu adalah motto tabisan imamatnya. Bisa saja ‘Ah Tuhan’ di sini diartikan sebagai ungkapan kekaguman, ketidaksanggupan, keraguan, atau ungkapan protes. Dan akan semakin menarik jika dua kata itu kembali direfleksikan dalam konteks kecelakaan pater.  Tentu saja jawabannya hanya ada pada pater.  Ada apa pater ?

(Tulisan ini adalah hasil refleksiku atas peristiwa kecelakaan  sepeda motor yang dialami P.Fredy Sebho, SVD pada hari senin, 06-10-2014.)
   







   

Sabtu, 19 September 2015

Problema Dialektis

Problema Dialektis di Gedung DPRD Lembata
Oleh Dai Within
Warga Lewoleba

Akhir-akhir ini, Lembata menjadi salah satu kabupaten yang mendapat sorotan dari berbagai media masa lokal, khususnya surat kabar. Para elite yang semestinya menjadi panutan malah berebutan peran antagonis. Menariknya, persoalan besar justru sering berawal di  gedung DPRD , tempat di mana nasip rakyat dipertaruhkan. Sesuatu yang mempermalukan dipertontonkan sebagai aksi yang menghibur. Ironis tapi itulah Lembata, selalu tampil beda dengan aneka topik baru yang menarik untuk disimak.
Dalam tulisan ini, penulis berusaha untuk tidak memvonis pihak mana yang mesti bertanggung jawab atas situasi yang demikian. Tapi penulis hendak  mencermati kompleksitas persoalan itu dari segi dialektika yang mungkin diabaikan para elite. Secara khusus, penulis bertolak dari  persoalan dalam rapat paripurna atau rapat lainnya di gedung DPRD  yang sering berakhir ricuh.

Persoalan  dialektika?
 Istilah dialektika berasal dari kata yunani dialektike (techne), artinya seni perdebatan. Seni ini untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh filsuf-filsuf Yunani kuno. Kaum sofis memakai dialektika sebagai sarana intelektual untuk menang dalam perdebatan.  Bagi Plato, dialektika merupakan metode berfilsafat melalui argumentasi pro dan kontra: dari gejala-gejala yang nampak sampai ke ide-ide  sebagai realitas yang paling mendasar.
Dalam konteks perpolitikan Lembata,  paham di atas akan berdampak positif jika dipahami secara benar lalu diimlementasikan dalam setiap sidang di gedung DPRD. Aspirasi rakyat terjawabi. Tiada tindakan kriminalisasi. Tapi sayangnya, realita berkata lain. Pihak  yang berargumen kontra oleh pihak lain dicap sebagai pembangkang. Dampaknya, suara-suara yang seharusnya disuarakan dibungkam oleh rasa takut serta kecemasan. Kebebasan berpendapat terpasung oleh pemimpin yang bertindak sesuka hati.
Hegel (1770-1831), seorang pemikir yang paling berpengaruh terhadap faham dialektika modern berpendapat bahwa berpikir secara dialektis berarti melihat kesatuan dalam yang saling bertentangan. Itu berarti yang benar hanyalah keseluruhan, tetapi keseluruhan itu terbangun dari gerak perkembangan unsur-unsurnya yang saling menentang.
Pimpinan serta pemimpin sidang perlu membuka diri terhadap kemungkinan tersebut. Tidak perlu melihat pertentangan sebagai ancaman yang harus ditanggapi dengan ancaman balik. Apalagi menilai penentang sebagai pemberontak yang hanya tahu mengkritik. Itu salah besar.
Pada tahap ini, tugas pimpinan sidang adalah menguji tepat tidaknya  motif di balik pertentangan tersebut. Jangan sampai pengusa dengan kekuasaan yang sah menjadi pijakan untuk mereduksi aspirasi rakyat yang diwakili oleh para wakil rakyat di gedung DPRD. Dan seyogianya sistem demokrasi di negeri ini mesti menghapus kata ‘pemberontak’ , karena aspirasi rakyat mendapat penyaluran dan minoritas dilindungi oleh hak-hak asasi, kekuasaan yudikatif yang bebas, serta undang-undang dasar.
Inti dari proses dialektika terungkap dalam kata ‘aufheben’ (Jerman) yang sekaligus mempunyai tiga arti: mengangkat, menghapus dan menyimpan. Setiap langkah baru sekaligus menentang atau menghapus yang lama, selanjutnya mengangkat kebenaran lama ke tingkat yang lebih tinggi dan kemudian menyimpannya.  Jelas ini menunjukkan bahwa suatu kebenaran tidak pernah tersedia begitu saja, melainkan merupakan hasil suatu proses trilangkah: pendapat semula (tesis) ditanggapi oleh pendapat lawan (antitesis); pendapat lawan itu disangkal lagi sehingga mencapai kebenaran penuh (sintesis). Maka, pemerintah Lembata tidak perlu melihat pertentangan sebagai pelecehan, tetapi awal dari sebuah kemajuan. Kebenaran diperoleh juga melalui pelbagai pertentangan yang timbul sebagai dampak dari antitesis.
Tugas pemerintah dalam menjalankan tugasnya bisa dibilang cukup kompleks, sarat tanggung jawab, serta penuh resiko. Oleh karena itu, rakyat melalui wakilnya  harus bisa menjalankan fungsi kontrol secara cermat. Segala hal yang dirasa janggal layak diselidiki. Bila  ditemukan praktek-praktek non konstitusional, maka wakil rakyat punya hak mutlak untuk meresponnya seturut perundang-undangan yang mengaturnya. Tapi, apakah di Lembata sudah demikian? Ini pertanyaan besar yang harus direfleksikan.

Berdasarkan informasi  yang diliput oleh beberapa media lokal, tiga wakil rakyat Lembata dikriminalisasi.  Terlepas dari kode etik di gedung DPRD yang terkadang dikesampingkan, salah satu dari ketiga dewan yakni, Fransiskus Limawai dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penghinaan terhadap bupati Lembata saat berlangsung sidang. Padahal kalau ditilik dari aspek sosio-politis, alasannya sederhana saja, apalagi jika kita berkaca pada ilmu dialektis. Tapi karena  kemungkinan adanya kepentingan tertentu, atau minusnya kapasitas akademis seseorang, membuat situasi justru bertolak belakang. Sintesis dicapai tanpa melewati antitesis. Suara-suara ‘miring’ dipandang sebagai pencemaran, penghinaan, serta perendahan martabat. Maka pada level ini, pemikiran Hegel semestinya menjadi cerminan bagi pemerintah Lembata sekedar introspeksi diri demi situasi Lembata yang lebih bermartabat.
Dialektika juga tidak terbatas pada cara berpikir, melainkan juga merupakan salah satu  hukum perkembangan realitas, khususnya realitas masyarakat. Di sini, masyarakat sering berkembang melalui tahap-tahap yang saling berlawanan. Karl Marx sendiri berpendapat sejarah umat manusia maju terdorong oleh pertentangan antara kelas pemilik dan kelas pekerja yang berujung pada revolusi di mana susunan masyarakat lama dihancurkan dan diciptakan suatu susunan masyarakat baru. Terlepas dari fakta tersebut, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud  memprovokasi massa untuk membuat suatu gebrakan, kendati perubahan itu perlu bagi Lembata yang terkesan kian hari kian terpuruk.
Sementara itu, DPRD Lembata yang merasa tercoreng oleh tindakan bupati tetap memilih memboikot sidang hingga kepolisian menghentikan kasus hukum terhadap tiga anggota DRRD Lembata (FP 21/10). Situasi  seperti ini menjadi lahan yang subur bagi benih-benih prasangka masyarakat. Kondisi hiruk-pikuk  boleh jadi membuat penguasa kehilangan arah pembangunan, lantas pihak oposisi memanfaatkan kesempatan ini untuk saling serang.
Kalau menyimak perkembangan Lembata dari segi hukum , mungkin lebih parah lagi. Penegak hukum kehilangan kewibawaan. Profesi tidak lebih dari label. Para kritikus secara blak-blakan menelanjangi bahkan ada kelompok tertentu yang telah mengeluarkan mosi tidak percaya atas intitusi kepolisian di Lembata (FP, 20/10). Profesionalisme polisi diragukan terkait ‘kasus’ tiga anggota dewan yang sedang ditangani. Hingga ada yang beranggapan hukum di Lembata dikendalikan oleh penguasa. Menyedihkan.

        Jika demikian, maka dialektika mesti bermuara pada dialog. Sebab  dalam dialog, sejatinya setiap pendapat tidak diterima atau ditolak begitu saja, melainkan dikaji kembali sebelum mencapai kesepakatan. Segala kesalapahaman diselidiki secara objektif kemudian sama-sama mencari solusi. Ketegangan karena silang pendapat tidak menjadi malapetaka.  Dengan begitu, ruang kriminalitas tidak tercipta, sentimen antar golongan dapat ditepis, atau lebih radikal seperti yang diungkapkan filsuf yunani, Herakleitos (544-483 SM): “ Perang adalah bapak segala-galanya”, sejauh mungkin dapat dihindari. 



(Medio Oktober 2014)

Krisis Demokrasi

Krisis Demokrasi

Oleh Dai Within
Tinggal di Ledalero


         Tulisan ringan ini terinspirasi dari sepotong kisah kecil berikut. Dalam satu kesempatan, seorang petani ketika ditanya siapa jagoannya dalam pemilu nanti, dengan santai ia menjawab tidak ada. Ia bukan belum punya tapi tidak punya.  Baginya, pemilu tidak lebih dari sekedar rutinitas tahunan belaka. Mengapa demikian?  Katanya, terlibat dalam pemilu atau tidak, jalan ke kampungnya dari tahun ke tahun tetap berlubang. Air dan listrik hanya sebatas janji yang menghibur hati. Pendidikan gratis seperti mimpi di siang bolong. Semua janji terucap begitu mulus tanpa cacat, meski penuh dusta.

Partisipasi Politik
            Hakekat paham demokrasi adalah rakyat yang memerintah atau  suatu  ‘pemerintahan dari mereka yang diperintah’. Oleh karena mustahil seluruh rakyat ikut memerintah, maka rakyat memilih wakil-wakilnya.  Sesudah jatuh tempo, maka rakyat memilih kembali wakil-wakilnya. Dalam pemilihan umum, semua warganegara  berhak menyatakan kehendak politisnya dengan mendukung figur-figur tertentu.  Mendukung berarti mereka turut mengubah personalia dalam lembaga-lembaga legislatif yang menurut mayoritas akan menentukan pemegang kekuasaan eksekutif untuk jangka waktu terbatas.  Dengan demikian, rakyat yang berdaulat secara periodik dapat mengoreksi dan mengontrol mereka yang memegang kekuasaan atas namanya.
            Dalam kasus kecil di atas, penjual tersebut secara sadar menghilangkan hak politiknya. Ia secara sadar mengabaikan sesuatu yang juga merupakan kewajibannya sebagai warganegara. Jelas itu tindakan yang merugikan.  Memilih diam berarti membiarkan demokrasi berjalan secara pincang. Memang kita termasuk petani tadi bebas memilih suatu partai/golongan atau tidak memilih sama sekali. Namun, entah kita memilih atau tidak memilih, dua-duanya harus kita lakukan dengan penuh tanggungjawab. Di sisi lain, tindakan untuk  memilih diam juga bisa menjadi teguran keras untuk para politisi oportunis yang hanya puas dengan janji tanpa pembuktian.
            Namun, inti demokrasi yang terpenting adalah peranan aktif dari rakyat. Demokrasi mesti menjadi pola pemerintahan yang mengikutsertakan secara aktif semua anggota masyarakat dalam setiap keputusan yang diambil. Maka legitimasi pemerintah adalah kemauan rakyat yang memilih dan mengontrolnya. Inilah kedaulatan rakyat yang sesungguhnya. Di samping itu, dalam Negara dengan penduduk jutaan, warganegara mengambil bagian juga dalam pemerintahan melalui persetujuan dan kritik yang dapat diutarakan dengan bebas, khususnya dalam media massa. Karenanya, keikutsertaan dalam pemilu mesti menjadi keharusan bagi setiap warganegara kerena itulah awal penentuan masa depan rakyat dan bangsa.

Pendidikan Politik
Demokrasi sudah saatnya memberi ruang yang cukup bagi pendidikan politik. Demokrasi yang utuh  mesti merupakan wujud dari pendidikan politik.Tujuan pendidikan politik adalah kedewasaan politis yang rela memikul tanggungjawab demi kepentingan umum pada tingkat yang berbeda-beda. Ini penting sebagai proses penyadaran serta pendewasaan sebagai warganegara.  Kendati pun warga bukan unsur dari massa, tetapi warga tetap menjadi anggota yang aktif dalam suatu badan organis.  Anggota dan badan akan menjadi sehat hanya apabila kedua-duanya sehat.  Maka anggota harus menyadari sumbangannya yang konstruktif baik yang menyetujui maupun  menolak dan bahkan melawan infeksi-infeksi yang terdapat di dalam badan.
Petani dalam kasus di atas barangkali kurang memiliki kesadaran politik. Ia mungkin hanya berpikir soal realisasi atas janji-janji selama pemilu. Tapi bukankah itu yang paling riil? Mereka menilai dari apa yang mereka amati dan alami dan bukan berdasar wawasan. Dalam kaitannya dengan kasus di atas, barangkali ada semacam  mosi tidak percaya dari sang petani atas para elite politik. Mungkin, di belakang petani juga masih berderet barisan yang mulai jenuh dengan sepak terjang politisi tanah air.
Maka, pendidikan politik juga mesti diusahakan oleh para elite politik. Dalam hal ini, kelompok elite dalam segala tingkatan mesti memberi teladan. Teladan ditunjukkan lewat kesaksian hidup berpolitik yang semestinya. Kata hanya mengajari, teladanlah yang meyakinkan. Segala pidato berupa diksi yang bombastis akan berujung nihil jika jauh panggang dari api.

.