Ada Apa Pater
By Mr D
(Mewakili para Gabrielian)
Siang itu, pancaran surya terlalu angkuh untuk diajak kompromi. Bias teriknya yang pecah di atas awan-awan seakan hendak membumihanguskan seisi ruang kelas kami. Apalagi ditambah mata kuliah teologi fundamental yang semakin hari semakin sulit untuk dipahami, entahkah karena materi yang sukar, ataukah misteri keilahian Allah yang terlampau rumit untuk dipahami oleh mahasiswa semester satu, membuat nuansa kelas hari itu terkesan kehilangan makna.
Kring...kring...kring…, bunyi bel pertanda kuliah telah selesai. Salah satu konfraterku menarik napas panjang. Barang kali ia tidak ingin larut lebih lama lagi dalam kebingungan. Kendati demikaan, ada juga di antara kami yang masih merasa waktu yang ada belum cukup. Rasa penasaran mendorong mereka untuk mencermati Allah dengan segala kompleksitasnya hingga tuntas, meski dosen bersangkutan terlihat lelah memilih kata yang sah untuk membahasakan eksistensi Allah.
Dari kelas saya lalu bergegas menuju kamar makan di wisma kami. Sepanjang jalan saya mendapati wajah-wajah yang telihat begitu kusam, pucat, bahkan ada yang lebih parah dari itu. Barangkali bisa dibenarkan apa yang dikatakan ketua kelas kami, itu efek dari belajar filsafat dan teologi. Fenomen yang demikian telah menjadi panorama yang tidak lagi dirasa aneh saat pulang kuliah. Beruntung saya seorang SVD yang menghuni unit dalam sehingga tak perlu energi extra untuk kembali ke biara. Hanya butuh sedikit tenaga untuk naik turun tangga. Dan bagi saya, saat-saat naik turun tanggga adalah saat yang tepat untuk kembali memaknai dinamika kehidupan, sama halnya naik turun tangga.
Karena itu, sebisa mungkin saya menemukan inspirasi saat naik maupun menuruni tiap anak-anak tangga ini. Tapi, siang itu berbeda sekali. Ketika menjajaki tiap anak-anak tangga, tepat di atas anak tangga ketiga dari yang terakhir, saya terhentak kaget dengan sebuah suara lepas yang arahnya entah dari sudut mana. Yang jelas bunyinya, Pater Fredy kecelakaan.
Betapa kagetnya saya. Bersamaan dengan itu, langkah kaki terhenti. Sekejap rasa haus dan lapar sirna bersama suara tadi yang menghilang. Dalam hati saya bertanya, “ada apa pater?” Saya lalu kembali teringat materi yang baru saja dibahas dalam perkuliahan tadi. Dalam hati saya berguman, “Allah, betapa terlampau dalam misteri-Mu untuk kami selami”.
Dalam hitungan beberapa menit, saya berdiri terpaku lalu membisu seperti anak tangga yang selalu bisu dalam segala situasi. Beragam perasaan berkecamuk dalam dadaku. Berharap apa yang saya dengar tadi hanyalah halusinasi belaka. Atau sederhananya semoga dampak kecelakaan tidak setragis bayanganku. Atau setidaknya tidak separah reaksiku saat mendengar berita yang kebenarannya pun masih dipertanyakan. Lalu bagaimana kalau betul? Pertanyaan ini semakin menambah rasa takut, cemas, hingga saya sendiri bingung siapa yang mesti dipersalahkan atas tragedi ini.
Di atas anak tangga ini, saya sadar bahwa protes terhadap takdir bukanlah solusi.
Beberapa sama saudaraku berlarian mendapati pater di rumah sakit untuk mengetahuai secara pasti seperti apa kondisinya. Sementara saya sendiri masih terpaku pada tempat yang juga masih sama . Saya tidak tahu, mungkin saja anak tangga yang menopangku juga turut merasakan rasa yang sama, piluh berbaur pedih. Toh, pater juga baru melewati anak tangga yang sama sesaat sebelum mengalami kecelakaan itu.
Sengaja saya tidak memilih untuk bersama mereka ke rumah sakit karena beberapa alasan. Bukan ego apalagi skeptis-apatis, tapi saya belum siap mengamini kabar yang ‘belum pasti’ tadi. Saya masih terus berharap semoga berita itu salah, layaknya sang biduan yang memilih kidung duka di musim panen. Atau politisi yang lupa bagaimana cara korupsi yang benar.
Sejam kemudian, saya coba menghubungi salah satu seniorku, Thaliz namanya, untuk mengetahui keadaan pater. Melalui sepotong sms yang saya kirim, ka’e Thalis lalu menjawab bahwa pater mengalami patah tulang pada bagian kaki kiri.
Membaca pesan singkat itu, dada saya menjadi kian sesak. Rasa-rasanya saya sedang berada pada posisinya pater. Ironis, tapi itulah yang kurasa. Wajarlah kalau memang demikian sebab semua ini seperti halilintar. Hadir penuh kejutan dengan hal di luar dugaan. Apalagi pater adalah sosok yang secara pribadi sudah sangat menginspirasi saya, dan mungkin juga sama saudara anggota unit yang lain. Pater begitu dekat dengan kami dan relasi yang terjalin justru seperti kakak beradik. Itu yang kurasa! Perasaan itu begitu besar hingga saya tidak sadar kalau ‘serpihan kaca’ di sudut retinaku jatuh di atas layar handphone. Dengan tangan yang lemas, saya mengusapnya. Namun basah lagi. Kembali saya bertanya dalam hati, “ada apa pater ?”
Patah kaki bukan perkara mudah, apalagi yang mengalaminya adalah seorang pastor muda. Butuh jiwa besar yang super extra. Pada level ini, saya tahu baik sosok Pater Fredy Sebho,SVD. Karena itu, semua yang mengenalnya pasti tidak meragukannya. Mungkin untuk lebih meyakinkan, lihat saja ibu kandung pater yang datang nun jauh dari Manggarai ke Maumere pada pagi hari dan langsung balik ke kampung pada sore harinya. Itu bukan berarti sang ibu kurang peduli atau kurang sayang, tapi itu secara jelas menunjukkan kepribadian putranya yang perlu diacungi jempol. Andai kata ada yang perlu dicemaskan, sudah pasti sang Ibu akan bertahan beberapa hari untuk menemani pater yang terbaring tak bardaya itu. Pater perfek kami memang hebat dan kata orang beliau selalu begitu.
Kecelakaan yang dialami pater terjadi saat kembali dari Maumere menuju Ledalero. Rupanya tujuan pater ke Maumere tidak lain untuk mengkonfirmasi soal sepeda motor baru yang akan dibeli pater dalam waktu dekat. Ah, sial betul, barangkat dengan sepeda motor demi sepeda motor dan pada akhirnya jadi korban karena sepeda motor. Memang sial selalu saja sulit ditebak! Tapi beruntunglah yang mengalaminya adalah seorang pastor. Tapi bila hal itu menimpa seorang frater, mungkin ‘sampai di situ pula’ ziarah panggilannya.
Saat mendapat kesempatan untuk menjenguk pater, hal pertama yang saya lakukan adalah siap mental. Batin harus tegar untuk melihat secara lebih dekat apa dan bagaimana kondisi pater. Ini penting karena tak jarang ada yang mempertontonkan aksi konyol di rumah sakit. Jeleknya lagi, ada yang berniat kunjung tapi kenyataannya datang dan pulang sama saja karena tak melihat pasien yang dikunjungi dengan alasan tak sanggup melihat penderitaan pasien. Lucu, bukan?
Ketika tiba di rumah sakit, prasangka kengerian atas kecelakaan yang dialami pater serentak lenyap tatkala melihat pancaran ekspresi pater yang begitu riang dan gembira. Pater seakan-akan tidak menderita apa-apa, meski kakinya dililit perban dan gips yang teramat menyiksa. Pater sungguh menghipnotis kami hingga kami lupa bahwa kami sedang bersenda gurau dengan pater yang adalah seorang pasien, pasien yang mengalami patah kaki, bukan sakit demam apalagi hanya masuk angin biasa. Saya lalu berpikir seandainya semua pasien bisa seperti pater, mungkin bisa sedikit memberi keringanan bagi pihak keluarga dan tim medis yang menanganinya.
Menariknya lagi, sebelum pamitan pulang, saya sempat membaca tulisan dibalik baju yang dikenanakan pater. Ternyata baju yang sama dikenakaan juga pater saat mengalami kecelakaan itu. Bunyi tulisan pada baju tersebut yakni, “Ah Tuhan ”
Percaya atau tidak, tulisan itu adalah motto tabisan imamatnya. Bisa saja ‘Ah Tuhan’ di sini diartikan sebagai ungkapan kekaguman, ketidaksanggupan, keraguan, atau ungkapan protes. Dan akan semakin menarik jika dua kata itu kembali direfleksikan dalam konteks kecelakaan pater. Tentu saja jawabannya hanya ada pada pater. Ada apa pater ?
(Tulisan ini adalah hasil refleksiku atas peristiwa kecelakaan sepeda motor yang dialami P.Fredy Sebho, SVD pada hari senin, 06-10-2014.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar