MOMENTUM JEDA
Dai Within Daniel
Alumnus Seminari Hokeng
Jeda
merupakan sebuah kata yang begitu akrab di telinga kita. Hampir setiap hari
bahkan setiap saat bisa didengar. Dalam sebuah moment rembug yang agak alot,
maka jeda di ambil untuk meminimalisir kejenuhan atau mencari ide fresh dalam
menghadapi kebuntuan sambil melakukan lobi-lobi terhadap pikiran yang dianggap
kontra. Lebih sering, kata ini terdengar melalui siaran televisi. Bisa saja berupa
siaran live pun siaran tunda, kata ini dipakai untuk sekedar rehat sejenak
memberi kesempatan kepada sponsor melakukan propaganda produknya.
Suka atau tidak suka, bahkan
mungkin Anda boleh sangat kesal mendengar propaganda itu yang lagi-lagi mungkin
hanya menghabiskan waktu dan sedikit membuyarkan konsentrasi Anda menikmati
acara tersebut, tapi dia terlanjur telah menjadi raja atas eksisnya sebuah
stasiun televisi. Di lain pihak, jeda
menjadi moment yang ditunggu segelintir orang. Jeda menjadi kesempatan untuk
menyusun strategi serta tindakan antisipatif untuk suatu rencana mendatang.
Dalam
konteks politik, Jeda pun kini boleh dinikmati oleh masyarakat Indonesia pasca
pemilihan legislatif. Sembilan april kemarin menjadi sebuah titik nadir dari pesta
demokrasi hingga menuju pertarungan pilpres sembilan juli mendatang. Kendati
banyak yang lolos, namun tak sedikit pula yang gugur. Melalui kalkulasi politik
secara akurat, KPU akhirnya menetapkan dua pasang calon untuk maju dalam
putaran pilpres. Sebuah realita yang mungkin menggembirakan serentak
memedihkan.
Berbagai
trik dan bahkan intrik mulai dipamerkan baik oleh para kandidat maupun oleh
para pendukung yang melabelkan diri sebagai tim pemenangan paket calon dari
partai pengusung. Para simpatisan pun tak ketinggalan mengambil bagian mengisi
waktu jeda ini dengan caranya masing-masing, mewartakan sisi lebih dari idolanya
sambil menghitung detik-detik penghujung yang sangat mendebarkan. Menyatukan
tekad, menguatkan barisan sambil duduk-duduk di moting atau oring hingga di
hotel-hotel berbintang seraya berbagi informasi tentang strategi dan cela lawan
yang bisa diterobosi, selanjutnya bagaimana membangun skenario menghancurkan
benteng pertahanan lawan politik. Riak-riak politik mulai menjelmakan diri
dalam isu-isu poitik kampungan hingga badai-badai gosip ala selebrita
metropolitan.
Pada tataran ini, budaya
babat membabat, libas melibas, gusur menggusur demi sebuah ambisi
tendensius sepertinya sudah menjadi cara yang dihalalkan. Terutama bagi para kandidat, semua mereka
sudah saling mengumbar program dengan begitu menawan selama melakukan aksi
kampanye. Bisa di bilang over convidence dan dengan “telanjang dada” mengumbar
psy word “this is the best programe from the golden boys.” Tidak segan-segan
pernyataan yang saling menyerang bahkan saling mendiskreditkan satu dengan yang
lainnya juga menjadi sesuatu hal yang lumrah adanya. Tetapi disinilah daya
gereget masing-masing kandidat terhadang
dan dituntut sebuah kreatifitas serta kearifan nan sangat untuk bisa
memerdekakan diri dari jeruji-jeruji kooptasi, pengkaplingan primordialisme
sempit dan intimidasi sektarian
Para simpatisan parpol yang
gugur pun tak mau ketinggalan. Berbagai aksi digalakan untuk mengganggu
kenyamanan dari dua pasang kandidat yang
lolos. Entahkah itu sebuah keseriusan dengan didukung oleh bukti-bukti yang
akurat tentang adanya indikasi pelanggaran melalui rekam jejak yang
obyektif? Ataukah sekedar
gengsi-gengsian agar tidak kehilangan “muka” terhadap para konstituennya?
Ini hanyalah sebuah jeda. Tak perlu membuat bara dalam sekam. Politik
punya cara sendiri dan pemenang punya jalan rahasia sendiri pula. Sehebat
apapun sang pakar politik menganalisis dan berandai, sedahsyat apapun daya
menerawang sang nujum, ia toh tetap tak berdaya ketika harus berhadapan dengan
realita yang mungkin saja beda. Itulah politik, selalu mengandung misteri.
Oleh karena itu,
kesempatan ini harus menjadi momentum jeda bagi kita untuk berefleksi diri.
Kita mesti bisa keluar dan terbebas dari
penjara dan perbudakan penguasa yang suka akan jargon-jargon politik dari pada mempersembahkan hidup bakti dirinya demi
kejayaan negeri dan rakyat.
Sebagai pemilih, kita harus menggunakan hati nurani sebagai tameng
untuk menolak rayuan dari para politisi oportunis. Sebab situasi kian menuntut
kita agar menjadi pemilih yang cerdas. Jika demikian, bumi pertiwi tercinta ini
tak akan lagi berwajah kusam.
#Medio April '15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar