Jumat, 02 Oktober 2015

Momentum Jeda

MOMENTUM JEDA

Dai Within Daniel
Alumnus Seminari Hokeng


Jeda merupakan sebuah kata yang begitu akrab di telinga kita. Hampir setiap hari bahkan setiap saat bisa didengar. Dalam sebuah moment rembug yang agak alot, maka jeda di ambil untuk meminimalisir kejenuhan atau mencari ide fresh dalam menghadapi kebuntuan sambil melakukan lobi-lobi terhadap pikiran yang dianggap kontra. Lebih sering, kata ini terdengar melalui siaran televisi. Bisa saja berupa siaran live pun siaran tunda, kata ini dipakai untuk sekedar rehat sejenak memberi kesempatan kepada sponsor melakukan propaganda produknya.

Suka atau tidak suka, bahkan mungkin Anda boleh sangat kesal mendengar propaganda itu yang lagi-lagi mungkin hanya menghabiskan waktu dan sedikit membuyarkan konsentrasi Anda menikmati acara tersebut, tapi dia terlanjur telah menjadi raja atas eksisnya sebuah stasiun televisi.   Di lain pihak, jeda menjadi moment yang ditunggu segelintir orang. Jeda menjadi kesempatan untuk menyusun strategi serta tindakan antisipatif untuk suatu rencana mendatang.

Dalam konteks politik, Jeda pun kini boleh dinikmati oleh masyarakat Indonesia pasca pemilihan legislatif. Sembilan april kemarin menjadi sebuah titik nadir dari pesta demokrasi hingga menuju pertarungan pilpres sembilan juli mendatang. Kendati banyak yang lolos, namun tak sedikit pula yang gugur. Melalui kalkulasi politik secara akurat, KPU akhirnya menetapkan dua pasang calon untuk maju dalam putaran pilpres. Sebuah realita yang mungkin menggembirakan serentak memedihkan.

Berbagai trik dan bahkan intrik mulai dipamerkan baik oleh para kandidat maupun oleh para pendukung yang melabelkan diri sebagai tim pemenangan paket calon dari partai pengusung. Para simpatisan pun tak ketinggalan mengambil bagian mengisi waktu jeda ini dengan caranya masing-masing, mewartakan sisi lebih dari idolanya sambil menghitung detik-detik penghujung yang sangat mendebarkan. Menyatukan tekad, menguatkan barisan sambil duduk-duduk di moting atau oring hingga di hotel-hotel berbintang seraya berbagi informasi tentang strategi dan cela lawan yang bisa diterobosi, selanjutnya bagaimana membangun skenario menghancurkan benteng pertahanan lawan politik. Riak-riak politik mulai menjelmakan diri dalam isu-isu poitik kampungan hingga badai-badai gosip ala selebrita metropolitan.

Pada tataran ini, budaya  babat membabat, libas melibas, gusur menggusur demi sebuah ambisi tendensius sepertinya sudah menjadi cara yang dihalalkan.  Terutama bagi para kandidat, semua mereka sudah saling mengumbar program dengan begitu menawan selama melakukan aksi kampanye. Bisa di bilang over convidence dan dengan “telanjang dada” mengumbar psy word “this is the best programe from the golden boys.” Tidak segan-segan pernyataan yang saling menyerang bahkan saling mendiskreditkan satu dengan yang lainnya juga menjadi sesuatu hal yang lumrah adanya. Tetapi disinilah daya gereget masing-masing kandidat  terhadang dan dituntut sebuah kreatifitas serta kearifan nan sangat untuk bisa memerdekakan diri dari jeruji-jeruji kooptasi, pengkaplingan primordialisme sempit dan intimidasi sektarian

 Para simpatisan parpol yang gugur pun tak mau ketinggalan. Berbagai aksi digalakan untuk mengganggu kenyamanan  dari dua pasang kandidat yang lolos. Entahkah itu sebuah keseriusan dengan didukung oleh bukti-bukti yang akurat tentang adanya indikasi pelanggaran melalui rekam jejak yang obyektif?  Ataukah sekedar gengsi-gengsian agar tidak kehilangan “muka” terhadap para konstituennya?

Ini hanyalah sebuah jeda. Tak perlu membuat bara dalam sekam. Politik punya cara sendiri dan pemenang punya jalan rahasia sendiri pula. Sehebat apapun sang pakar politik menganalisis dan berandai, sedahsyat apapun daya menerawang sang nujum, ia toh tetap tak berdaya ketika harus berhadapan dengan realita yang mungkin saja beda. Itulah politik, selalu mengandung misteri.
Oleh karena itu, kesempatan ini harus menjadi momentum jeda bagi kita untuk berefleksi diri. Kita mesti bisa keluar  dan terbebas dari penjara dan perbudakan penguasa yang suka akan jargon-jargon politik dari  pada mempersembahkan hidup bakti dirinya demi kejayaan negeri dan rakyat.

Sebagai pemilih, kita harus menggunakan hati nurani sebagai tameng untuk menolak rayuan dari para politisi oportunis. Sebab situasi kian menuntut kita agar menjadi pemilih yang cerdas. Jika demikian, bumi pertiwi tercinta ini tak akan lagi berwajah kusam.



#Medio April '15


Tidak ada komentar:

Posting Komentar