Jumat, 02 Oktober 2015

Menemukan Makna di Balik Realitas Pasar

Menemukan Makna di Balik Realitas Pasar
Oleh Dai Within Daniel

I. Latar Belakang Pemilihan Tempat
            Pasar Alok merupakan pasar harian yang berlokasi di pinggir kota Maumere, Sikka. Biasanya, pasar alok  dibuka sejak pagi hari dan tidak jarang berlangsung hingga sore bahkan malam hari.  Pasar ini selalu ramai setiap hari sebab pasar Alok menjadi salah satu pasar di kota Maumere yang menyediakan seluruh kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari. Dan karena itu, pasar ini selalu mendapat perhatian dari pihak pemerintah daerah.
            Secara pribadi, sengaja saya memilih tempat ini sebagai objek pengamatan saya karena beberapa alasan yang bagi saya cukup membantu saya. Pertama, saya sering mendapat giliran belanja kebutuhan unit dan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk membuat pengamatan. Kedua, pasar Alok terdiri dari penjual serta pembeli yang memiliki latar belakang serta status social yang berbeda-beda. Hal itu akan membuat kualitas pengamatan saya lebih baik serta tidak bersifat subjektif. Ketiga, pasar Alok juga mudah dijangkau oleh kendaraan bermotor karena sarana infrastruktur yang memada

II. Pengalaman Bersama
            Terhitung sejak diberi mandat untuk membuat pengamatan, saya sudah turun ke lapangan sebanyak tiga kali sebagaimana yang disepakati bersama. Dalam tiga pengamatan ini, tentu saja sasarannya berbeda-beda kendati masih pada lokasi yang sama, yakni pasar Alok.  Berikut nama-nama pedagang yang menjadi obyek pengamatan saya.
1.      Bpk Karolus Pati (Pedagang Lombok)
2.      Bpk Yohanes (Pedagang ayam)
3.      Ibu Katarina Martha (Pedagang sayur)
Ketiga mereka adalah pedagang harian yang berasal dari kampung-kampung yang hanya turun ke kota manakala mereka hendak memperdagangkan hasil jerih payah mereka. Selanjutnya, mereka tidak bisa berjualan bila hasil kebun atau hasil ternak mereka tidak cukup untuk dipasarkan. Hal ini
lalu membuat saya menarik sebuah kesimpulan bahwa pasar menjadi tempat bagi mereka untuk mengais hasil keringat mereka. Pasar menjadi lahan yang memberi kehidupan bagi mereka, tempat di mana mereka dapat mendapatkan sesuatu demi kelangsungan hidup keluarga mereka. Kesimpulan itu secara langsung telah mengubah pola pikirku tentang mereka yang selama ini hidup dalam benakku. Suatu anggapan bahwa mereka terlalu malas berusaha untuk mendapatkan apa yang sebetulnya bisa mereka dapatkan lebih dari sekadar duduk berpangku tangan sambil menunggu colon pembeli yang datang menghampiri.
            Selama pengamatan ini, saya menyaksikan sebuah suasana hiruk-pikuk pasar di mana para pembeli dan penjual saling kompromi soal harga. Ada yang begitu cepat mencapai kesepakatan, namun ada yang berlarut-larut hingga  terkesan penjual keletihan mempertahankan nilai jual barang dagangannya. Bila sudah mencapai level ini, saya melihat bahwa penjual dengan berat hati melepaskan dagangannya dengan harga yang tidak proporsional. Prinsip mereka, lebih baik terjual dari pada tidak terjual sama sekali. kasihan, bukan?
            Setiap panorama yang di tampilkan di tengah pasar memang memprihatinkan. Penjual yang mungkin hanya mendapat keuntungan kecil dari seluruh hasil dagangannya pun masih ditawar-tawar oleh para calon pembeli. Hasil penjualan yang sebetulnya hanya untuk mendapatkan sesuap nasi saja masih dirampas oleh pembeli yang boleh jadi nuraninya sudah tumpul. Betapa tragisnya hidup ini jika  kita mencermati nasip hidup para pedagang kecil. Keuntungan yang sebenarnya bisa memberi mereka  sedikit kemakmuran malah direduksi oleh kepentingan perut para pembeli yang terlalu arogan. Keringat yang bercucuran di ladang bukannya membuahkan senyum di tempat mengadu nasip, malah yang terjadi justru bertolak belakang. Keringat dan kerja keras penjual di bawah terik surya oleh pembeli dianggap tidak lebih dari sekedar  mengisi waktu luang.
            Di pasar, realiatas yang seharusnya dirasa menggelisahkan justru dirasa sebagai sesuatu yang lumrah. Para penjual sudah dibiasakan sehingga mereka pun merasa terbiasa dengan situasi yang demikian. Akibatnya para pembeli dengan seenaknya saja mempermainkan harga barang. Ironis. Apalagi jika ditelusuri lebih jauh, mungkin para pembeli seperti itu lebih cocok jika diberi label brutus.  Sungguh memprihatinkan nasip para penjual di pasar Alok. Padahal, semua mereka pada umumnya adalah orang-orang kecil yang datang dari kampung-kampung terpencil. Jangan sampai hasil jualan mereka habis di biaya transportasi pergi pulang pasar.
            Kendati demikian, apa mau dikata, toh tidak semua pembeli berasal dari latar belakang keluarga serta pekerjaan yang terpandang. Karena itu, sebelum membeli mereka juga harus menyesuaikan dengan isi kantong mereka. Saya melihat bahwa tindakan saling tawar antara kedua belah pihak dimaksudkan untuk sama-sama mencari titik harga yang sesuai di antara kedua pihak ini. Harga barang dagangan pun mesti disesuaikan dengan daya beli masyarakat kecil. Tindakan seperti ini tentu saja akan sangan membantu dalam hal pencapaian kesepakatan harga. Tidak terjadi yang namanya kerugian karena nilai tukar barang yang terlalu kecil atau karena nilai tukar terlalu tinggi bagi pembeli yang datang dari masyarakat  berpengasilan rendah.

III. Kesadaran Baru
Setelah membuat pengamatan sebanyak tiga kali, tentu saja saya menemukan nilai-nilai yang kiranya boleh menjadi kesadaran baru bagi saya. Nilai-nilai tersebut secara singkat dapat saya jabarkan sebagai berikut.
1.      Nilai kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu keutamaan yang mesti dimiliki oleh saya yang adalah calon biarawan misionaris. Kemiskinan di sini masih berkaitan erat dengan kaul kemiskinan yang telah saya  ikrarkan. Itu berarti saya perlu menghargai setiap barang yang ada dalam komunitas. Kemiskinan harus menjadikan saya sebagai orang yang menerima segala yang ada dengan senang hati. Tak perlu banyak kompromi. Realitas di pasar Alok menjadi dasar pertimbangan saya untuk dapat menghayati serta menjalankan secara sungguh hakikat dari kaul kemiskinan yang telah saya ikrarkan.
2.      Pola hidup  hemat
Hidup hemat adalah salah satu cara menghargai keringat dan kerja keras orang lain. Hidup hemat menunjukkan sikap respek saya kepada mereka yang telah dengan susah paya mendatangkan segala yang saya butuhkan. Di sini, saya perlu mengingat kembali betapa susahnya para penjual di pasar Alok yang dengan penuh perjuangan mempertahankan hidup lewat barang-barang mereka yang diperdagangkan. Dengan demikian, sikap hemat membuat saya lebih menghargai perjuangan mereka.
3.      Nilai perjuangan dan pengorbanan
Situasi di pasar Alok menyadarkan saya bahwa hidup adalah sebuah perjuangan  yang harus dilalui dengan penuh pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan membuat sesesorang dapat bertahan hidup. Tanpa perjuangan dan perngorbanan, seseorang tidak dapat memperolah apa yang ia butuhkan. Para penjual di pasar Alok secara jelas telah membuktikan itu. Mereka dengan gigih berjuang di tengah situasi pasar yang sangat memprihatinkan. Itulah satu-satunya cara mereka untuk dapat bertahan hidup.

IV. Penutup
            Pengamatan yang saya buat selama tiga kali di pasar Alok semata-mata tidak sekedar menjadi pemenuhan tugas belaka, melainkan lebih dari itu. Pengamatan ini telah menghantar saya untuk melihat realitas dari sisi lain. di dalamnya, saya telah menemukan ada begitu banyak nilai-nilai hidup yang dapat saya jadikan sebagai bekal perjalanan hidup dan panggilan saya selanjutnya.



 #Tugas Sosiologi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar