Menemukan
Makna di Balik Realitas Pasar
Oleh
Dai Within Daniel
I. Latar Belakang Pemilihan Tempat
Pasar
Alok merupakan pasar harian yang berlokasi di pinggir kota Maumere, Sikka.
Biasanya, pasar alok dibuka sejak pagi
hari dan tidak jarang berlangsung hingga sore bahkan malam hari. Pasar ini selalu ramai setiap hari sebab
pasar Alok menjadi salah satu pasar di kota Maumere yang menyediakan seluruh
kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari. Dan karena itu, pasar ini selalu
mendapat perhatian dari pihak pemerintah daerah.
Secara
pribadi, sengaja saya memilih tempat ini sebagai objek pengamatan saya karena
beberapa alasan yang bagi saya cukup membantu saya. Pertama, saya sering mendapat
giliran belanja kebutuhan unit dan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk
membuat pengamatan. Kedua, pasar Alok terdiri dari penjual serta pembeli yang
memiliki latar belakang serta status social yang berbeda-beda. Hal itu akan
membuat kualitas pengamatan saya lebih baik serta tidak bersifat subjektif.
Ketiga, pasar Alok juga mudah dijangkau oleh kendaraan bermotor karena sarana
infrastruktur yang memada
II. Pengalaman Bersama
Terhitung
sejak diberi mandat untuk membuat pengamatan, saya sudah turun ke lapangan
sebanyak tiga kali sebagaimana yang disepakati bersama. Dalam tiga pengamatan
ini, tentu saja sasarannya berbeda-beda kendati masih pada lokasi yang sama,
yakni pasar Alok. Berikut nama-nama
pedagang yang menjadi obyek pengamatan saya.
1. Bpk Karolus Pati (Pedagang Lombok)
2. Bpk Yohanes (Pedagang ayam)
3. Ibu Katarina Martha (Pedagang sayur)
Ketiga mereka adalah pedagang harian yang berasal dari kampung-kampung
yang hanya turun ke kota manakala mereka hendak memperdagangkan hasil jerih
payah mereka. Selanjutnya, mereka tidak bisa berjualan bila hasil kebun atau
hasil ternak mereka tidak cukup untuk dipasarkan. Hal ini
lalu membuat saya menarik sebuah kesimpulan bahwa pasar menjadi tempat
bagi mereka untuk mengais hasil keringat mereka. Pasar menjadi lahan yang
memberi kehidupan bagi mereka, tempat di mana mereka dapat mendapatkan sesuatu
demi kelangsungan hidup keluarga mereka. Kesimpulan itu secara langsung telah
mengubah pola pikirku tentang mereka yang selama ini hidup dalam benakku. Suatu
anggapan bahwa mereka terlalu malas berusaha untuk mendapatkan apa yang
sebetulnya bisa mereka dapatkan lebih dari sekadar duduk berpangku tangan
sambil menunggu colon pembeli yang datang menghampiri.
Selama pengamatan ini,
saya menyaksikan sebuah suasana hiruk-pikuk pasar di mana para pembeli dan
penjual saling kompromi soal harga. Ada yang begitu cepat mencapai kesepakatan,
namun ada yang berlarut-larut hingga
terkesan penjual keletihan mempertahankan nilai jual barang dagangannya.
Bila sudah mencapai level ini, saya melihat bahwa penjual dengan berat hati
melepaskan dagangannya dengan harga yang tidak proporsional. Prinsip mereka,
lebih baik terjual dari pada tidak terjual sama sekali. kasihan, bukan?
Setiap
panorama yang di tampilkan di tengah pasar memang memprihatinkan. Penjual yang
mungkin hanya mendapat keuntungan kecil dari seluruh hasil dagangannya pun
masih ditawar-tawar oleh para calon pembeli. Hasil penjualan yang sebetulnya hanya
untuk mendapatkan sesuap nasi saja masih dirampas oleh pembeli yang boleh jadi
nuraninya sudah tumpul. Betapa tragisnya hidup ini jika kita mencermati nasip hidup para pedagang
kecil. Keuntungan yang sebenarnya bisa memberi mereka sedikit kemakmuran malah direduksi oleh
kepentingan perut para pembeli yang terlalu arogan. Keringat yang bercucuran di
ladang bukannya membuahkan senyum di tempat mengadu nasip, malah yang terjadi
justru bertolak belakang. Keringat dan kerja keras penjual di bawah terik surya
oleh pembeli dianggap tidak lebih dari sekedar
mengisi waktu luang.
Di
pasar, realiatas yang seharusnya dirasa menggelisahkan justru dirasa sebagai
sesuatu yang lumrah. Para penjual sudah dibiasakan sehingga mereka pun merasa
terbiasa dengan situasi yang demikian. Akibatnya para pembeli dengan seenaknya
saja mempermainkan harga barang. Ironis. Apalagi jika ditelusuri lebih jauh,
mungkin para pembeli seperti itu lebih cocok jika diberi label brutus. Sungguh memprihatinkan nasip para penjual di
pasar Alok. Padahal, semua mereka pada umumnya adalah orang-orang kecil yang
datang dari kampung-kampung terpencil. Jangan sampai hasil jualan mereka habis
di biaya transportasi pergi pulang pasar.
Kendati
demikian, apa mau dikata, toh tidak semua pembeli berasal dari latar belakang
keluarga serta pekerjaan yang terpandang. Karena itu, sebelum membeli mereka
juga harus menyesuaikan dengan isi kantong mereka. Saya melihat bahwa tindakan
saling tawar antara kedua belah pihak dimaksudkan untuk sama-sama mencari titik
harga yang sesuai di antara kedua pihak ini. Harga barang dagangan pun mesti
disesuaikan dengan daya beli masyarakat kecil. Tindakan seperti ini tentu saja
akan sangan membantu dalam hal pencapaian kesepakatan harga. Tidak terjadi yang
namanya kerugian karena nilai tukar barang yang terlalu kecil atau karena nilai
tukar terlalu tinggi bagi pembeli yang datang dari masyarakat berpengasilan rendah.
III. Kesadaran Baru
Setelah membuat pengamatan sebanyak tiga kali, tentu saja
saya menemukan nilai-nilai yang kiranya boleh menjadi kesadaran baru bagi saya.
Nilai-nilai tersebut secara singkat dapat saya jabarkan sebagai berikut.
1.
Nilai
kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu
keutamaan yang mesti dimiliki oleh saya yang adalah calon biarawan misionaris.
Kemiskinan di sini masih berkaitan erat dengan kaul kemiskinan yang telah
saya ikrarkan. Itu berarti saya perlu
menghargai setiap barang yang ada dalam komunitas. Kemiskinan harus menjadikan
saya sebagai orang yang menerima segala yang ada dengan senang hati. Tak perlu
banyak kompromi. Realitas di pasar Alok menjadi dasar pertimbangan saya untuk
dapat menghayati serta menjalankan secara sungguh hakikat dari kaul kemiskinan
yang telah saya ikrarkan.
2.
Pola
hidup hemat
Hidup hemat adalah salah satu cara
menghargai keringat dan kerja keras orang lain. Hidup hemat menunjukkan sikap
respek saya kepada mereka yang telah dengan susah paya mendatangkan segala yang
saya butuhkan. Di sini, saya perlu mengingat kembali betapa susahnya para
penjual di pasar Alok yang dengan penuh perjuangan mempertahankan hidup lewat
barang-barang mereka yang diperdagangkan. Dengan demikian, sikap hemat membuat
saya lebih menghargai perjuangan mereka.
3.
Nilai
perjuangan dan pengorbanan
Situasi di pasar Alok menyadarkan
saya bahwa hidup adalah sebuah perjuangan
yang harus dilalui dengan penuh pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan
membuat sesesorang dapat bertahan hidup. Tanpa perjuangan dan perngorbanan,
seseorang tidak dapat memperolah apa yang ia butuhkan. Para penjual di pasar
Alok secara jelas telah membuktikan itu. Mereka dengan gigih berjuang di tengah
situasi pasar yang sangat memprihatinkan. Itulah satu-satunya cara mereka untuk
dapat bertahan hidup.
IV. Penutup
Pengamatan
yang saya buat selama tiga kali di pasar Alok semata-mata tidak sekedar menjadi
pemenuhan tugas belaka, melainkan lebih dari itu. Pengamatan ini telah
menghantar saya untuk melihat realitas dari sisi lain. di dalamnya, saya telah
menemukan ada begitu banyak nilai-nilai hidup yang dapat saya jadikan sebagai
bekal perjalanan hidup dan panggilan saya selanjutnya.
#Tugas Sosiologi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar