Krisis Demokrasi
Oleh Dai Within
Tinggal di Ledalero
Tulisan ringan ini terinspirasi dari
sepotong kisah kecil berikut. Dalam satu kesempatan, seorang petani ketika ditanya
siapa jagoannya dalam pemilu nanti, dengan santai ia menjawab tidak ada. Ia
bukan belum punya tapi tidak punya. Baginya, pemilu tidak lebih dari sekedar
rutinitas tahunan belaka. Mengapa demikian? Katanya, terlibat dalam pemilu atau tidak,
jalan ke kampungnya dari tahun ke tahun tetap berlubang. Air dan listrik hanya
sebatas janji yang menghibur hati. Pendidikan gratis seperti mimpi di siang
bolong. Semua janji terucap begitu mulus tanpa cacat, meski penuh dusta.
Partisipasi
Politik
Hakekat paham demokrasi adalah rakyat yang memerintah
atau suatu ‘pemerintahan dari mereka yang diperintah’.
Oleh karena mustahil seluruh rakyat ikut memerintah, maka rakyat memilih
wakil-wakilnya. Sesudah jatuh tempo,
maka rakyat memilih kembali wakil-wakilnya. Dalam pemilihan umum, semua
warganegara berhak menyatakan kehendak
politisnya dengan mendukung figur-figur tertentu. Mendukung berarti mereka turut mengubah
personalia dalam lembaga-lembaga legislatif yang menurut mayoritas akan
menentukan pemegang kekuasaan eksekutif untuk jangka waktu terbatas. Dengan demikian, rakyat yang berdaulat secara
periodik dapat mengoreksi dan mengontrol mereka yang memegang kekuasaan atas
namanya.
Dalam kasus kecil di atas, penjual tersebut secara sadar
menghilangkan hak politiknya. Ia secara sadar mengabaikan sesuatu yang juga
merupakan kewajibannya sebagai warganegara. Jelas itu tindakan yang merugikan. Memilih diam berarti membiarkan demokrasi
berjalan secara pincang. Memang kita termasuk petani tadi bebas memilih suatu
partai/golongan atau tidak memilih sama sekali. Namun, entah kita memilih atau
tidak memilih, dua-duanya harus kita lakukan dengan penuh tanggungjawab. Di
sisi lain, tindakan untuk memilih diam
juga bisa menjadi teguran keras untuk para politisi oportunis yang hanya puas
dengan janji tanpa pembuktian.
Namun, inti demokrasi yang terpenting adalah peranan
aktif dari rakyat. Demokrasi mesti menjadi pola pemerintahan yang
mengikutsertakan secara aktif semua anggota masyarakat dalam setiap keputusan
yang diambil. Maka legitimasi pemerintah adalah kemauan rakyat yang memilih dan
mengontrolnya. Inilah kedaulatan rakyat yang sesungguhnya. Di samping itu,
dalam Negara dengan penduduk jutaan, warganegara mengambil bagian juga dalam
pemerintahan melalui persetujuan dan kritik yang dapat diutarakan dengan bebas,
khususnya dalam media massa. Karenanya, keikutsertaan dalam pemilu mesti
menjadi keharusan bagi setiap warganegara kerena itulah awal penentuan masa
depan rakyat dan bangsa.
Pendidikan
Politik
Demokrasi
sudah saatnya memberi ruang yang cukup bagi pendidikan politik. Demokrasi yang
utuh mesti merupakan wujud dari pendidikan
politik.Tujuan pendidikan politik adalah kedewasaan politis yang rela memikul
tanggungjawab demi kepentingan umum pada tingkat yang berbeda-beda. Ini penting
sebagai proses penyadaran serta pendewasaan sebagai warganegara. Kendati pun warga bukan unsur dari massa,
tetapi warga tetap menjadi anggota yang aktif dalam suatu badan organis. Anggota dan badan akan menjadi sehat hanya
apabila kedua-duanya sehat. Maka anggota
harus menyadari sumbangannya yang konstruktif baik yang menyetujui maupun menolak dan bahkan melawan infeksi-infeksi
yang terdapat di dalam badan.
Petani
dalam kasus di atas barangkali kurang memiliki kesadaran politik. Ia mungkin
hanya berpikir soal realisasi atas janji-janji selama pemilu. Tapi bukankah itu
yang paling riil? Mereka menilai dari apa yang mereka amati dan alami dan bukan
berdasar wawasan. Dalam kaitannya dengan kasus di atas, barangkali ada semacam mosi tidak percaya dari sang petani atas para
elite politik. Mungkin, di belakang petani juga masih berderet barisan yang
mulai jenuh dengan sepak terjang politisi tanah air.
Maka,
pendidikan politik juga mesti diusahakan oleh para elite politik. Dalam hal
ini, kelompok elite dalam segala tingkatan mesti memberi teladan. Teladan
ditunjukkan lewat kesaksian hidup berpolitik yang semestinya. Kata hanya
mengajari, teladanlah yang meyakinkan. Segala pidato berupa diksi yang
bombastis akan berujung nihil jika jauh panggang dari api.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar