Riwayat Hidup Nietzsche
Dai Within Daniel
Latar
belakang keluarga dan masa kecil Nietzsche
Friedrich
Wilhelm Nietzsche lahir di Rocken (Saxe-Prussia), 15 Oktober 1844, anak Karl
Ludwig dan Franzizka Oehler. Ayahnya adalah pendeta Lutheran di kota Rocken.
Kakek dan kakek buyut Nietzsche dari pihak ibu semuanya berprofesi sebagai
pendeta. Adik perempuan Nietzsche (Elisabeth)—yang nantinya memiliki peran
khusus untuk karya-karya Nietzsche yang diterbitkan setelah kematian
Nistzsche—lahir dua tahun kemudian pada bulan Juli 1846. Belum genap Nietzsche
berusia 5 tahun, ayahnya meninggal dunia pada tanggal 30 Juli 1849 pada usia 36
tahun.
Di
desa Rocken, keluarga Nietzsche terkenal amat saleh dan taat beribadah. Bahkan
ibunya tergolong tipe orang Kristen yang tidak dapat memahami bahwa orang yang
sudah membaca dan mempelajari Injil masih meragukan kebenaran yang ada di
dalamnya. Sikap Franziska Oehler ini sering bertabrakan dengan sikap-sikap
Nietzsche selanjutnya. Dan tragisnya, Fraziska adalah orang yang paling dekat
dengan Nietzsche.
Usai
peristiwa meninggalnya ayah Nietzsche, keluarga mereka kembali terpukul lagi
ketika adik Nietzsche, Joseph, meninggal pada tahun berikutnya. Sejak itu
seluruh keluarga pindah ke Naumburg, kota asal nenek moyang Nietzsche. Mereka
mencoba memulai fase hidup baru di sana. Dan dalam keluarga ini, kini Nietzsche
merupakan satu-satunya anak lelaki. Anggota keluarga yang lainnya adalah ibu,
kakak perempuan dan kedua tante dan nenek.
Menjelang
umur enam tahun, Nietzsche masuk sekolah gymnasium. Ketika itu sebenarnya dia
sudah bisa membaca dan menulis, sebab dia sudah diajar oleh ibunya. Di sekolah,
Nietzsche termasuk orang yang amat pandai bergaul. Dengan cepat ia dapat
menjalin persahabatan dengan teman-teman sekolahnya. Melalui teman-temannya
inilah ia mulai diperkenalkan dengan karya Goethe dan Wagner. Dari
perkenalannya yang pertama dengan sastra dan musik, ia merasa bahwa dia cukup
mempunyai bakat dalam bidang itu.
Nietzsche
sebagai pelajar & mahasiswa
Pada
umur 14 tahun, Nietzsche pindah ke sekolah dan sekaligus asrama yang bernama
Pforta. Sekolah ini dikenal cukup keras dan ketat. Acara-acara disusun
sedemikian ketat sehingga seolah-olah para murid merasa hidup di penjara. Hanya
pada hari Minggu anak-anak diberi sedikit kebebasan, yaitu tidur setengah jam
lebih lama. Sedangkan jam-jam lainnya dipakai untuk mengadakan semacam
pengulangan atau repetisi pelajaran-pelajaran yang sudah diterima selama
seminggu yang baru saja berlalu.
Selama
di Pforta Nietzsche belajar bahasa Yunani dan Latin secara intensif. Dari
sinilah dia mendapatkan bekal yang kuat untuk menjadi seorang ahli filologi
yang brilian. Di samping belajar kedua bahasa itu, ia juga masih belajar bahasa
Hibrani, karena pada waktu itu ia masih tetap bermaksud menjadi pendeta sesuai
dengan keinginan keluarganya. Namun, Nietzsche mengakui bahwa dia tidak
berhasil menguasai bahasa Hibrani. Bagi Nietzsche, tata bahasa Hibrani yang
termasuk rumpun bahasa Semit ini dirasa terlalu sulit.
Di
kota Pforta inilah Nietzsche mulai merasa kagum dengan karya-karya klasik
Yunani dan kejeniusan para pengarang Yunani. Bersama dengan dua temannya,
Wilhelm Pinder dan Gustav Krug, Nietzsche membentuk semacam kelompok sastra
yang diberi nama Germania. Dalam kelompok ini mereka berlatih mendiskusikan
karya-karya bermutu, baik berupa artikel-artikel maupun puisi-puisi. Dengan
cara inilah Nietzsche mulai tertarik melatih mengungkapkan gagasan-gagasan dan
emosinya melalui puisi.
Pada
tahun-tahun terakhir di Pforta, Nietzsche sudah menunjukkan sikap jalangnya.
Dalam tulisannya, Ohne Heimat (Tanpa Kampung Halaman), ia mengungkapkan gejolak
hatinya yang ingin bebas dan minta dipahami.
Bersamaan
dengan itu ia juga mempertanyakan iman Kristennya dan bahkan secara
perlahan-lahan mulai meragukan kebenaran seluruh agama.
Pada
Oktober 1864, Nietzsche melanjutkan studi di Universitas Bonn untuk memperdalam
filologi dan teologi. Di bidang filologi, Nietzsche diajar oelh Friedrich
Ritschl, yang pada tahun-tahun selanjutnya banyak membantu kemahiran Nietzsche
dalam filologi. Tetapi pada tahun 1865, Nietzsche sudah memutuskan untuk tidak
belajar teologi lagi.
Keputusan
itu amat erat kaitannya dengan kepercayaan Nietzsche yang sudah mulai pudar
sejak ia masih tinggal di Pforta. Sampai saat ini ia bersedia belajar teologi
hanya karena cintanya pada ibu dan ayahnya, sebab dengan belajar teologi, ia
dapat menjadi pendeta dan denga demikian dapat meneruskan profesi ayahnya.
Keputusan ini mendapat perlawanan keras dari ibunya. Di antara mereka pernah
terjadi diskusi melalui surat tentang hal itu. Dalam satu suratnya Nietzsche
pernah menulis:
“Jika
engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan maka: percayalah, jika engkau
ingin menjadi murid kebenaran: carilah…!”
Sejak
di Pforta, Nietzsche merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hidup.
Berkali-kali ia menyatakan mau mengadakan semacam pencarian dan pecobaan
(versuch) dengan hidupnya. Sikap ini nanti akan mempengaruhi seluruh
filsafatnya, khususnya metode filsafatnya. Ia melakukan percobaan ini secara radikal
dengan melepaskan teologi. Ia memilih menjadi seorang freethinker. Ia ingin
bebas, tidak hanya bebas melepaskan beban, tetapi juga bebas memilih beban yang
lebih berat.
Di
Bonn, Nietzsche hanya bertahan selama dua semester. Pada pertengahan 1865, ia
pindah ke Leipzig untuk belajar filologi selama empat semester. Di sana ia
akrab dengan dosennya, F. Ritschl, yang diakui oleh dosennya sebagai mahasiswa
yang paling berbakat di antara semua mahasiswa yang pernah diajarnya.
Pengalaman
membaca karya Schopenhauer adalah salah satu peristiwa terpenting dalam
kehidupan intelektual Nietzsche. Dan ini juga terjadi di Leipzig pada akhir
Oktober 1865. Saat itu ia sedang mengalami kegelisahan dan kegundahan yang amat
mendalam. Ia sedang merasa amat pesimis akan hidupnya. Ketika mengunjugi sebuah
toko buku-buku bekas, ia tertarik pada salah satu buku bekas karya Schopenhauer
(1788-1860), yaitu Die Welt als Wille und Vors-tellung (The World as Will and
Idea, Dunia sebagai kehendak dan Ide, 1819). Semula ia membeli buku ini “iseng”
saja. Tetapi setelah membaca buku itu sampai habis, ia segera menyatakan diri
pada temannya bahwa ia sudah menjadi pengikut Schopenhauer.
Pada
tahun 1867-1868, terjadi perang antara Jerman melawan Prancis. Ketika itu
Nietzsche didaftar sebagai anggota dinas militer. Meskipun amat tidak senang
dengan tugas itu, akhirnya ia tetap melaksanakannya. Selama menjalani dinas
militer Nietzsche mendapatkan banyak pengalaman yang tak terduga sebelumnya. Ia
mengalami kecelakaan (jatuh dari kuda) dan terpaksa dirawat selama satu bulan
di Naumburg. Ia juga menyaksikan peristiwa-peristiwa tragis sebagaimana terjadi
pada setiap perang. Seluruh pengalaman ini menimbulkan kegoncangan dalam
dirinya. Ia mulai bertanya pada dirinya: melanjutkan studi filologi atau studi
lain. kini ia merasa bahwa belajar filologi itu hambar dan mati. Ia ingin
belajar sesuatu yang menarik untuk hidup.
Sekalipun
di Pforta Nietzsche sudah mengenal karya-karya musikus Richard Wagner, baru
pada 1868 ia benar-benar merasa “jatuh cinta” pada musikus Jerman ini.
Pengalaman ini terjadi ketika ia menyaksikan pementasan musik Tristen dan
Meistersinger.
Dua
belas hari kemudian ia dapat berjumpa dengan Wagner secara pribadi untuk
pertama kalinya. Perjumpaan itu membuatnya yakin bahwa ternyata kebebasan dan
karya yang sangat jenius itu masih mungkin dicapai. Dalam musik Wagner,
Nietzsche meliha
t ada semangat kebudayaan Yunani sebagaimana terlihat dalam karya-karya tragedi. Kebudayaan, katanya, dapat menjadi perwujudan kembali kebudayaan Yunani, asal diresapi dengan semangat Wagner. Ia juga tahu bahwa Wagner tahu Wagner adalah pengagum Schopenhauer. Sejak itu, Nietzsche , menggabungkan dua tokoh itu, Wagner dan Schopenhauer, menjadi agama barunya.
t ada semangat kebudayaan Yunani sebagaimana terlihat dalam karya-karya tragedi. Kebudayaan, katanya, dapat menjadi perwujudan kembali kebudayaan Yunani, asal diresapi dengan semangat Wagner. Ia juga tahu bahwa Wagner tahu Wagner adalah pengagum Schopenhauer. Sejak itu, Nietzsche , menggabungkan dua tokoh itu, Wagner dan Schopenhauer, menjadi agama barunya.
Nietzsche
sebagai profesor di Basel
Pada
tahun 1869, Nietzsche mendapat panggilan dari Universitas Basel, Swiss, untuk
menjadi dosen di sana. Ia sendiri merasa heran karena belum bergelar doktor.
Tetapi hal itu rupanya tidak menjadi masalah karena Ritschl, bekas dosennya di
Leipzig, memberikan rekomendasi pada Universitas Basel. Bahkan di luar dugaan
Nietzsche, sebulan setelah ada panggilan itu ia mendapatkan gelar doktor dari
Leipzig tanpa ujian dan formalitas apa pun.
Di
Basel ia mengajar selama sepuluh tahun, 1869-1879, dan berhenti karena
kesehatannya memburuk. Mata kuliah yang diajarkannya terutama filologi
dan bahasa Yunani. Di samping dalam bentuk ceramah, ia juga memberikan kuliah
dalam bentuk seminar. Selain di universitas Nietzsche juga mengajar di SMA.
Selama di Basel Nietzsche mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu dengan
Wagner. Bahkan kadang-kadang ia sempat tinggal serunah dengannya untuk beberapa
hari. Kesempatan semacam itu sangat menguntungkan Nietzsche untuk mengenal
Wagner secara lebih dekat, dan hal ini sangat penting untuk mengembangkan
pemikirannya.
Masa
karirnya sebagai Dosen di Basel juga diwarnai kondisi kesehatannya yang semakin
memburuk. Berkali-kali ia harus cuti dan istirahat demi kesembuhan dirinya.
Misalnya saja, pada tahun 1870, ia jatuh sakit karena serangan desentri dan
difteri. Pada tahun 1870, ia hanya sempat mengajar selama satu bulan, dan sisa
waktu lainnya dipakai untuk pergi ke berbagai daerah dan kota untuk
menyembuhkan dirinya yang semakin lemah. Sakit mata dan kepala mulai parah
sejak 1875. Serangan paling parah dan lama dideritanya pada tahun 1879 sehingga
ia terpaksa berhenti bertugas sebagai dosen.
Sepanjang
sakit dideritanya, Nietzsche sangat produktif dalam menulis. Pada periode
tersebut dia menghasilkan banyak karangan yang kemudian hari tergolong karya-karya
terbaiknya. Buku Die Geburt de Tragodie aus dem Geiste der Musik (The Birth of
Tragedy Out of the Spirit of Music; Lahirnya Tragedi dari Semangat Musik)
terbit pada tahun 1872, setahun setelah ia beristirahat dan mencari kesembuhan
di Lugano, Naumburg dan Leipzig. Pada tahun berikutnya, buku tentang tragedy
Yunani ini disusul dengan terbitnya Unzeitgemasse Betrachtungen (Untimely
Meditations; Permenungan yang Terlalu Awal).
Prestasi
Nietzsche ini sangat mengagumkan, karena tahun 1879 merupakan tahun kelabu
baginya: ia menderita sakit yang paling berat selama 118 hari. Keadaan ini
memaksa Nietzsche mau tidak mau mengundurkan diri sebagai dosen.
Nietzsche
pada masa-masa pengembaraan dan kesepian
Sejak
meninggalkan Basel, Juni 1879, hidup Nietzsche lebih banyak diwarnai dengan
kesuraman dan kesepian. Ia lebih banyak menyendiri dan selalu menghindar dari
hal-hal yang menyangkut tanggung jawab sosial. Untuk itu ia hidup
berpindah-pindah di beberapa kota di Italia dan Swiss. Dalam pengembaraannya,
Nietzsche sering ditemani Elisabeth (saudarinya), Lou Salome, dan Paul Ree. Ia
juga pernah merencanakan akan menikahi novelis cantik dan “paling menyenangkan
serta paling cerdas yang dijumpai oleh Nietzsche”.
Lou
menerima lamaran Nietzsche asal dia juga diperbolehkan menikahi Paul Ree!. Usul
ini diajukan oleh Lou karena ia tahu bahwa di antara mereka sebetulnya terjadi
cinta segitiga. Mendengar rencana ini Elisabeth menjadi berang. Ia lalu
melaporkan rencana yang ‘immoral’ ini kepada ibunya. Kemarahan ibu dan saudarinya,
ditambah kesehatannya yang semakin buruk, mendorong Nietzsche untuk hidup
sendirian sampai akhir hidupnya.
Sampai
dengan tahun 1889 saat menderita sakit jiwa, Nietzsche tak dapat menghentikan
kegiatannya untuk selalu merenung dan menulis. Pada tahun 1881, dia berhasil
menerbitkan buku Die Morgenrote Gedanken uber die moralischen Vorurteile
(Fajar, Gagasan-Gagasan tentang Praanggapan Moral). Dengan bukunya ini
Nietzsche bermaksud mau “mengawali perang melawan moralitas”. Tahun berikutnya,
1882, ia menerbitkan salah satu bukunya yang indah dan paling penting, yaitu
Die Frohlice Wissenschaft (la gaya scienza; ilmu yang mengasyikkan). Dalam buku
inilah Nietzsche memproklamasikan bahwa “Tuhan telah mati” (Gott is tot). Pada
tahun 1883-1885 Nietzsche mempersiapkan karya besarnya, yaitu Also Sprach
Zarathustra (Demikianlah Sabda Zarathustra). Buku yang seluruhnya ditulis
secara puitis ini terbit pada akhir 1885.
Tahun
1889 adalah tahun paling menyedihkan Nietzsche. Ia ditimpa sakit jiwa. Oleh
Franz Overbeck, sahabat karibnya, ia dibawa ke rumah ke klinik Universitas
Basel. Seminggu kemudian, ia dipindahkan ke klinik Universitas Jena. Hampir
semua usaha penyembuhan sia-sia saja. Nietzsche tak pernah dapat sembuh sama
sekali. Sejak 1890 ia dipindahkan oleh ibunya ke Naumburg dan dirawat sendiri
di sana. Tiga tahun kemudian, Elisabeth datang dari Paraguay karena suaminya,
Forster, bunuh diri pada tahun 1889. Bersama ibunya, Elisabeth merawat
Nietzsche yang semakin lemah. Keluarga ini semakin malang ketika pada tanggal
20 April 1897 sang ibu meninggal. Pada tahun itu juga Elisabeth memindahkan
Nietzsche ke Weimar. Dan di sana Nietzsche meninggal pada tanggal 25 Agustus
1900.
(Dikumpulkan dari
beberapa sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar