Mencermati Masalah Pasar
di Lewoleba
Dai Within Daniel
Malam itu, persis di tahun 2004, malapetaka menyapa Lembata. Sebuah pasar Inpres di
Lewoleba
terbakar.
Malam itu lalu menjadi malam yang paling dikutuk sepanjang sejarah berdirinya kabupaten itu. Isak tangis para pedagang
pecah di mana-mana. Hari itu
jatuh pada bulan Maret, sebelas tahun silam. Bayangkan, kerugian
mencapai miliaran rupiah, sayangnya kurang
digubris pemerintah. Ada desas-desus bahwa pasar ini terbakar akibat tegangan
listrik. Ada pula karena puntungan rokok yang
tidak sengaja dijatuhkan, berubah menjadi raksasa yang melahap tanpa
sisa. Sebab-musebab
ini beredar begitu cepat. Masyarakat lalu percaya tanpa banyak tanya.
Beberapa
bulan setelah kejadian itu, muncul lagi desas-desus dan masih tentang topik
yang sama. Pasar bukan terbakar tapi pasar dibakar. Gawat. Sang dalang mulai
panik,
barangkali. Skenario mulai bergeser. Terlepas dari benar dan tidaknya, tetap ada kemungkinan untuk keduanya. Puji Tuhan, hingga kini kasus itu didiami
begitu saja. Hilang
tanpa bekas. Sang (dalang?) boleh merasa legah.
Pasar
Pada Vs Pasar Lamahora
Akhir-akhir
ini, Lembata cukup meramaikan media massa lokal. Berita dari yang baik jarang
ditemukan, tapi yang sebaliknya malah tak terhitung. Mulai dari anggota dewan
versus bupati hingga bupati versus pedagang. Tidak hanya ramai, tapi juga seru.
Kontroversi terakhir yang paling menegangkan adalah
polemik soal keberadaan pasar. Pasar, sejak dulu hingga
sekarang, kapan masalah pasar di Lewoleba bisa lumpuh?
Pasar
Pada dan Pasar Lamahora diresmikan sesaat
sesudah pasar Inpres Lewoleba hangus.
Kedua pasar ini dibangun dengan maksud agar para pedagang di Pasar Inpres Lewoleba boleh menduduki tempat yang baru. Dalam bahasa lain, agar para pedagang ‘merasa’
diperhatikan. Apa boleh buat, para pedagang hanyalah orang kecil, mudah
diberdayai. Beberapa kalangan menilai ini sebagai siasat politik golongan
tertentu. Katanya, di lokasi ini hendak dibuat suatu proyek raksasa. Jika
demikian, orang mesti
kembali merenung: pasar terbakar atau pasar dibakar? Mudah ditebak.
Sesudah
terbakarnya Pasar
Inpres Lewoleba, secara otomatis para
pedagang pun angkat kaki dengan membawa serta luka di dada. Sebagian ke pasar
Pada dan sisanya memilih pasar Lamahora. Tiada pilihan lain. Maka secara otomatis pula, Lewoleba
terbagi dua, timur
versus barat. Pemerintah menarik napas legah: cita-cita luhur tercapai. Konon, Pasar Inpres Lewoleba adalah pasar yang
mempersatukan. Berbagai lapisan masyarakat di Lembata bertemu di tempat ini.
Tapi, kini tidak lagi.
Dalam
perjalanan waktu, Pasar Pada mulai ramai bahkan sangat ramai. Sebaliknya, pasar
Lamahora justru menjadi sepih. Para pembeli bisa dihitung dengan jari. Para
pedagang di Pasar Lamahora menjadi jenuh menjaga sunyi. Mereka lalu serempak membuat kesepakatan: beramai-ramai pindah ke pasar Pada. Konsekuensinya,
mereka mesti merogoh kocek sebab jaraknya tidak dekat. Apalagi para
pedagang dari Ile Ape dan Kedang, bisa-bisa
kewalahan. Alhasil, Pasar
Lamahora menjadi kosong.
Aktivitas jual beli lenyap. Sadisnya, tempat ini kemudian
menjadi tempat bermain kambing-kambing
milik warga sekitar. Ironi,
dari
pasar menjadi kandang.
Kontroversi Pasar
Senja TPI
Pasar
senja TPI adalah salah satu pasar yang terletak di pinggir kota Lewobeba,
tepatnya di pinggir pantai. Dari namanya saja, kita langsung tahu apa dan
bagaiamana pasar senja. Pasar Senja
TPI ini bisa dibilang cukup ramai. Pengunjungnya selalu berdesakan manakala
senja menyapa. Awalnya dimanfaatkan
untuk berjualan ikan, tapi kemudian tidak selalu demikian. Pasar ini didirikan empat tahun lalu berdasarkan kebijakan bupati Sunur. Lantas, mengapa
berbuah kontoversi?
Pada dasarnya, (Pasar Senja) TPI
dibangun bukan sebagai pasar, tapi hanya sebagai pempat pendaratan ikan (TPI).
Di tempat ini, sejatinya hanya ada ikan. Namun dalam perjalanan, pasar ini
berubah fungsi. Para pedagang terus bertambah dalam jumlah hingga membludak.
Apa yang diperjualbelikan pun kian bervariasi. Di tempat ini, aktivitas
pasar berjalan sepanjang hari. Masalah
baru muncul lagi.
Para pedagang di Pasar Pada melakukan aksi
protes. Mereka menuntut agar pemerintah secara bijak memfasilitasi aktivitas jual beli di Pasar Senja TPI. Merasa
tidak ditanggapi, para pedagang Pasar Pada memutuskan untuk berjualan
di Taman Kota. Segala aktivitas jual beli diadakan di Taman Kota.
Jumlah mereka sekitar dua ratusan, sebuah jumlah yang tidak sedikit. Soal ini, banyak orang menilai sebagai sebuah pemberontakan terhadap penguasa Lembata. Namun penguasa lembata tetap merasa tenang-tenang saja.
Pada level ini, sebetulnya ada yang tidak beres. Aneh!
Berita
terakhir menyebutkan, para pedagang di Taman
Kota semakin terorganisir. Mereka membentuk
badan pengurus. Petugas keamanan serta kebersihan pun tidak luput. Bagi mereka,
dengan begitu pasar selalu aman dan bersih. Setidaknya mereka punya dasar jika
aparatur pemerintah menggusur mereka dengan dalil demi kebersihan kota. Sekarang, pasar di Taman Kota lebih ramai jika
dibandingkan dengan Pasar Senja TPI. Taman Kota dahulunya adalah lokasi Pasar
Inpres, lalu sekarang dijadikan lagi sebagai pasar. Lucu, bukan?
Eliminasi
atau Fasilitasi?
Masalah
pasar di Lewoleba memang kompleks. Betapa pun juga, pasti ada solusi. Selama
ini, pemerintah belum menemukan benang merah karena kurangnya komunikasi. Oleh
karena itu, sikap saling terbuka perlu dibangun demi situasi Lewotana Lembata
yang lebih bermartabat. Adapun beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan.
Pertama, eliminasi. Dalam Perda Nomor 12 tahun 2004 secara terang
menunjukkan bahwa hanya ada dua pasar di Lewoleba, yakni pasar Pada dan Pasar
Lamahora. Aksi protes para pedagang
Pasar Pada sebetulnya serentak hendak menegakkan perda. Bila pemerintah ingin
konsisten, maka Pasar Senja TPI semestinya ditutup. Jika pemerintah tetap menginginkan berdirinya
Pasar Senja TPI, maka Perda Tahun 2004 itu perlu direvisi.
Kedua, fasilitasi. Masalah pasar di Lewoleba sebetulnya juga
masalah waktu. Andaikata pemerintah secara cermat mengatur waktu, maka tidak
akan ada problem seperti sekarang ini. Tapi rupanya, pemerintah setempat selalu
menutup mata. Semestinya pemerintah sudah bisa menduga ketika secara jelas ada
indikasi bahwa Pasar Pada mulai sepih pengunjung. Sebaliknya, pemerintah baru
kaget ketika Para pedagang Pasar Pada mulai menggelar aksi protes. Ini yang
salah. Maka dari itu, pemerintah harus bisa memulihkan situasi dengan cara
mengeluarkan aturan yang jelas mengenai jadwal aktivitas baik di Pasar Senja
TPI maupun di Pasar Pada. Aturan ini hendaknya dibuat secara cermat dengan
mempertimbangkan esensi dari Pasar Senja TPI agar pada pedagang Pasar Pada
tidak merasa dirugikan.
Problematika ini hanya akan terpecahkan
jika ada kesediaan, termasuk kesediaan pemerintah untuk duduk bicara soal nasip
para pedagang. Mesti ada keadilan. Kasihan kalau nasip mereka dibiarkan
terkatung-katung tanpa ada arah yang pasti. Apalagi Pasar Pada, miliaran rupiah
sudah dihabiskan untuknya, bukan?
Malam itu, persis di tahun 2004, malapetaka menyapa Lembata. Sebuah pasar Inpres di
Lewoleba
terbakar.
Malam itu lalu menjadi malam yang paling dikutuk sepanjang sejarah berdirinya kabupaten itu. Isak tangis para pedagang
pecah di mana-mana. Hari itu
jatuh pada bulan Maret, sebelas tahun silam. Bayangkan, kerugian
mencapai miliaran rupiah, sayangnya kurang
digubris pemerintah. Ada desas-desus bahwa pasar ini terbakar akibat tegangan
listrik. Ada pula karena puntungan rokok yang
tidak sengaja dijatuhkan, berubah menjadi raksasa yang melahap tanpa
sisa. Sebab-musebab
ini beredar begitu cepat. Masyarakat lalu percaya tanpa banyak tanya.
Beberapa
bulan setelah kejadian itu, muncul lagi desas-desus dan masih tentang topik
yang sama. Pasar bukan terbakar tapi pasar dibakar. Gawat. Sang dalang mulai
panik,
barangkali. Skenario mulai bergeser. Terlepas dari benar dan tidaknya, tetap ada kemungkinan untuk keduanya. Puji Tuhan, hingga kini kasus itu didiami
begitu saja. Hilang
tanpa bekas. Sang (dalang?) boleh merasa legah.
Pasar
Pada Vs Pasar Lamahora
Akhir-akhir
ini, Lembata cukup meramaikan media massa lokal. Berita dari yang baik jarang
ditemukan, tapi yang sebaliknya malah tak terhitung. Mulai dari anggota dewan
versus bupati hingga bupati versus pedagang. Tidak hanya ramai, tapi juga seru.
Kontroversi terakhir yang paling menegangkan adalah
polemik soal keberadaan pasar. Pasar, sejak dulu hingga
sekarang, kapan masalah pasar di Lewoleba bisa lumpuh?
Pasar
Pada dan Pasar Lamahora diresmikan sesaat
sesudah pasar Inpres Lewoleba hangus.
Kedua pasar ini dibangun dengan maksud agar para pedagang di Pasar Inpres Lewoleba boleh menduduki tempat yang baru. Dalam bahasa lain, agar para pedagang ‘merasa’
diperhatikan. Apa boleh buat, para pedagang hanyalah orang kecil, mudah
diberdayai. Beberapa kalangan menilai ini sebagai siasat politik golongan
tertentu. Katanya, di lokasi ini hendak dibuat suatu proyek raksasa. Jika
demikian, orang mesti
kembali merenung: pasar terbakar atau pasar dibakar? Mudah ditebak.
Sesudah
terbakarnya Pasar
Inpres Lewoleba, secara otomatis para
pedagang pun angkat kaki dengan membawa serta luka di dada. Sebagian ke pasar
Pada dan sisanya memilih pasar Lamahora. Tiada pilihan lain. Maka secara otomatis pula, Lewoleba
terbagi dua, timur
versus barat. Pemerintah menarik napas legah: cita-cita luhur tercapai. Konon, Pasar Inpres Lewoleba adalah pasar yang
mempersatukan. Berbagai lapisan masyarakat di Lembata bertemu di tempat ini.
Tapi, kini tidak lagi.
Dalam
perjalanan waktu, Pasar Pada mulai ramai bahkan sangat ramai. Sebaliknya, pasar
Lamahora justru menjadi sepih. Para pembeli bisa dihitung dengan jari. Para
pedagang di Pasar Lamahora menjadi jenuh menjaga sunyi. Mereka lalu serempak membuat kesepakatan: beramai-ramai pindah ke pasar Pada. Konsekuensinya,
mereka mesti merogoh kocek sebab jaraknya tidak dekat. Apalagi para
pedagang dari Ile Ape dan Kedang, bisa-bisa
kewalahan. Alhasil, Pasar
Lamahora menjadi kosong.
Aktivitas jual beli lenyap. Sadisnya, tempat ini kemudian
menjadi tempat bermain kambing-kambing
milik warga sekitar. Ironi,
dari
pasar menjadi kandang.
Kontroversi Pasar
Senja TPI
Pasar
senja TPI adalah salah satu pasar yang terletak di pinggir kota Lewobeba,
tepatnya di pinggir pantai. Dari namanya saja, kita langsung tahu apa dan
bagaiamana pasar senja. Pasar Senja
TPI ini bisa dibilang cukup ramai. Pengunjungnya selalu berdesakan manakala
senja menyapa. Awalnya dimanfaatkan
untuk berjualan ikan, tapi kemudian tidak selalu demikian. Pasar ini didirikan empat tahun lalu berdasarkan kebijakan bupati Sunur. Lantas, mengapa
berbuah kontoversi?
Pada dasarnya, (Pasar Senja) TPI
dibangun bukan sebagai pasar, tapi hanya sebagai pempat pendaratan ikan (TPI).
Di tempat ini, sejatinya hanya ada ikan. Namun dalam perjalanan, pasar ini
berubah fungsi. Para pedagang terus bertambah dalam jumlah hingga membludak.
Apa yang diperjualbelikan pun kian bervariasi. Di tempat ini, aktivitas
pasar berjalan sepanjang hari. Masalah
baru muncul lagi.
Para pedagang di Pasar Pada melakukan aksi
protes. Mereka menuntut agar pemerintah secara bijak memfasilitasi aktivitas jual beli di Pasar Senja TPI. Merasa
tidak ditanggapi, para pedagang Pasar Pada memutuskan untuk berjualan
di Taman Kota. Segala aktivitas jual beli diadakan di Taman Kota.
Jumlah mereka sekitar dua ratusan, sebuah jumlah yang tidak sedikit. Soal ini, banyak orang menilai sebagai sebuah pemberontakan terhadap penguasa Lembata. Namun penguasa lembata tetap merasa tenang-tenang saja.
Pada level ini, sebetulnya ada yang tidak beres. Aneh!
Berita
terakhir menyebutkan, para pedagang di Taman
Kota semakin terorganisir. Mereka membentuk
badan pengurus. Petugas keamanan serta kebersihan pun tidak luput. Bagi mereka,
dengan begitu pasar selalu aman dan bersih. Setidaknya mereka punya dasar jika
aparatur pemerintah menggusur mereka dengan dalil demi kebersihan kota. Sekarang, pasar di Taman Kota lebih ramai jika
dibandingkan dengan Pasar Senja TPI. Taman Kota dahulunya adalah lokasi Pasar
Inpres, lalu sekarang dijadikan lagi sebagai pasar. Lucu, bukan?
Eliminasi
atau Fasilitasi?
Masalah
pasar di Lewoleba memang kompleks. Betapa pun juga, pasti ada solusi. Selama
ini, pemerintah belum menemukan benang merah karena kurangnya komunikasi. Oleh
karena itu, sikap saling terbuka perlu dibangun demi situasi Lewotana Lembata
yang lebih bermartabat. Adapun beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan.
Pertama, eliminasi. Dalam Perda Nomor 12 tahun 2004 secara terang
menunjukkan bahwa hanya ada dua pasar di Lewoleba, yakni pasar Pada dan Pasar
Lamahora. Aksi protes para pedagang
Pasar Pada sebetulnya serentak hendak menegakkan perda. Bila pemerintah ingin
konsisten, maka Pasar Senja TPI semestinya ditutup. Jika pemerintah tetap menginginkan berdirinya
Pasar Senja TPI, maka Perda Tahun 2004 itu perlu direvisi.
Kedua, fasilitasi. Masalah pasar di Lewoleba sebetulnya juga
masalah waktu. Andaikata pemerintah secara cermat mengatur waktu, maka tidak
akan ada problem seperti sekarang ini. Tapi rupanya, pemerintah setempat selalu
menutup mata. Semestinya pemerintah sudah bisa menduga ketika secara jelas ada
indikasi bahwa Pasar Pada mulai sepih pengunjung. Sebaliknya, pemerintah baru
kaget ketika Para pedagang Pasar Pada mulai menggelar aksi protes. Ini yang
salah. Maka dari itu, pemerintah harus bisa memulihkan situasi dengan cara
mengeluarkan aturan yang jelas mengenai jadwal aktivitas baik di Pasar Senja
TPI maupun di Pasar Pada. Aturan ini hendaknya dibuat secara cermat dengan
mempertimbangkan esensi dari Pasar Senja TPI agar pada pedagang Pasar Pada
tidak merasa dirugikan.
Problematika ini hanya akan terpecahkan
jika ada kesediaan, termasuk kesediaan pemerintah untuk duduk bicara soal nasip
para pedagang. Mesti ada keadilan. Kasihan kalau nasip mereka dibiarkan
terkatung-katung tanpa ada arah yang pasti. Apalagi Pasar Pada, miliaran rupiah
sudah dihabiskan untuknya, bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar