Kamis, 10 Maret 2016

Tokoh Filsafat


Riwayat Hidup Nietzsche
Dai Within Daniel


Latar belakang keluarga dan masa kecil Nietzsche
Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir di Rocken (Saxe-Prussia), 15 Oktober 1844, anak Karl Ludwig dan Franzizka Oehler. Ayahnya adalah pendeta Lutheran di kota Rocken. Kakek dan kakek buyut Nietzsche dari pihak ibu semuanya berprofesi sebagai pendeta. Adik perempuan Nietzsche (Elisabeth)—yang nantinya memiliki peran khusus untuk karya-karya Nietzsche yang diterbitkan setelah kematian Nistzsche—lahir dua tahun kemudian pada bulan Juli 1846. Belum genap Nietzsche berusia 5 tahun, ayahnya meninggal dunia pada tanggal 30 Juli 1849 pada usia 36 tahun.
Di desa Rocken, keluarga Nietzsche terkenal amat saleh dan taat beribadah. Bahkan ibunya tergolong tipe orang Kristen yang tidak dapat memahami bahwa orang yang sudah membaca dan mempelajari Injil masih meragukan kebenaran yang ada di dalamnya. Sikap Franziska Oehler ini sering bertabrakan dengan sikap-sikap Nietzsche selanjutnya. Dan tragisnya, Fraziska adalah orang yang paling dekat dengan Nietzsche.
Usai peristiwa meninggalnya ayah Nietzsche, keluarga mereka kembali terpukul lagi ketika adik Nietzsche, Joseph, meninggal pada tahun berikutnya. Sejak itu seluruh keluarga pindah ke Naumburg, kota asal nenek moyang Nietzsche. Mereka mencoba memulai fase hidup baru di sana. Dan dalam keluarga ini, kini Nietzsche merupakan satu-satunya anak lelaki. Anggota keluarga yang lainnya adalah ibu, kakak perempuan dan kedua tante dan nenek.
Menjelang umur enam tahun, Nietzsche masuk sekolah gymnasium. Ketika itu sebenarnya dia sudah bisa membaca dan menulis, sebab dia sudah diajar oleh ibunya. Di sekolah, Nietzsche termasuk orang yang amat pandai bergaul. Dengan cepat ia dapat menjalin persahabatan dengan teman-teman sekolahnya. Melalui teman-temannya inilah ia mulai diperkenalkan dengan karya Goethe dan Wagner. Dari perkenalannya yang pertama dengan sastra dan musik, ia merasa bahwa dia cukup mempunyai bakat dalam bidang itu.

Nietzsche sebagai pelajar & mahasiswa
Pada umur 14 tahun, Nietzsche pindah ke sekolah dan sekaligus asrama yang bernama Pforta. Sekolah ini dikenal cukup keras dan ketat. Acara-acara disusun sedemikian ketat sehingga seolah-olah para murid merasa hidup di penjara. Hanya pada hari Minggu anak-anak diberi sedikit kebebasan, yaitu tidur setengah jam lebih lama. Sedangkan jam-jam lainnya dipakai untuk mengadakan semacam pengulangan atau repetisi pelajaran-pelajaran yang sudah diterima selama seminggu yang baru saja berlalu.
Selama di Pforta Nietzsche belajar bahasa Yunani dan Latin secara intensif. Dari sinilah dia mendapatkan bekal yang kuat untuk menjadi seorang ahli filologi yang brilian. Di samping belajar kedua bahasa itu, ia juga masih belajar bahasa Hibrani, karena pada waktu itu ia masih tetap bermaksud menjadi pendeta sesuai dengan keinginan keluarganya. Namun, Nietzsche mengakui bahwa dia tidak berhasil menguasai bahasa Hibrani. Bagi Nietzsche, tata bahasa Hibrani yang termasuk rumpun bahasa Semit ini dirasa terlalu sulit.
Di kota Pforta inilah Nietzsche mulai merasa kagum dengan karya-karya klasik Yunani dan kejeniusan para pengarang Yunani. Bersama dengan dua temannya, Wilhelm Pinder dan Gustav Krug, Nietzsche membentuk semacam kelompok sastra yang diberi nama Germania. Dalam kelompok ini mereka berlatih mendiskusikan karya-karya bermutu, baik berupa artikel-artikel maupun puisi-puisi. Dengan cara inilah Nietzsche mulai tertarik melatih mengungkapkan gagasan-gagasan dan emosinya melalui puisi.
Pada tahun-tahun terakhir di Pforta, Nietzsche sudah menunjukkan sikap jalangnya. Dalam tulisannya, Ohne Heimat (Tanpa Kampung Halaman), ia mengungkapkan gejolak hatinya yang ingin bebas dan minta dipahami.

Bersamaan dengan itu ia juga mempertanyakan iman Kristennya dan bahkan secara perlahan-lahan mulai meragukan kebenaran seluruh agama.
Pada Oktober 1864, Nietzsche melanjutkan studi di Universitas Bonn untuk memperdalam filologi dan teologi. Di bidang filologi, Nietzsche diajar oelh Friedrich Ritschl, yang pada tahun-tahun selanjutnya banyak membantu kemahiran Nietzsche dalam filologi. Tetapi pada tahun 1865, Nietzsche sudah memutuskan untuk tidak belajar teologi lagi.
Keputusan itu amat erat kaitannya dengan kepercayaan Nietzsche yang sudah mulai pudar sejak ia masih tinggal di Pforta. Sampai saat ini ia bersedia belajar teologi hanya karena cintanya pada ibu dan ayahnya, sebab dengan belajar teologi, ia dapat menjadi pendeta dan denga demikian dapat meneruskan profesi ayahnya. Keputusan ini mendapat perlawanan keras dari ibunya. Di antara mereka pernah terjadi diskusi melalui surat tentang hal itu. Dalam satu suratnya Nietzsche pernah menulis: 

“Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan maka: percayalah, jika engkau ingin menjadi murid kebenaran: carilah…!”

Sejak di Pforta, Nietzsche merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hidup. Berkali-kali ia menyatakan mau mengadakan semacam pencarian dan pecobaan (versuch) dengan hidupnya. Sikap ini nanti akan mempengaruhi seluruh filsafatnya, khususnya metode filsafatnya. Ia melakukan percobaan ini secara radikal dengan melepaskan teologi. Ia memilih menjadi seorang freethinker. Ia ingin bebas, tidak hanya bebas melepaskan beban, tetapi juga bebas memilih beban yang lebih berat.
Di Bonn, Nietzsche hanya bertahan selama dua semester. Pada pertengahan 1865, ia pindah ke Leipzig untuk belajar filologi selama empat semester. Di sana ia akrab dengan dosennya, F. Ritschl, yang diakui oleh dosennya sebagai mahasiswa yang paling berbakat di antara semua mahasiswa yang pernah diajarnya.

Pengalaman membaca karya Schopenhauer adalah salah satu peristiwa terpenting dalam kehidupan intelektual Nietzsche. Dan ini juga terjadi di Leipzig pada akhir Oktober 1865. Saat itu ia sedang mengalami kegelisahan dan kegundahan yang amat mendalam. Ia sedang merasa amat pesimis akan hidupnya. Ketika mengunjugi sebuah toko buku-buku bekas, ia tertarik pada salah satu buku bekas karya Schopenhauer (1788-1860), yaitu Die Welt als Wille und Vors-tellung (The World as Will and Idea, Dunia sebagai kehendak dan Ide, 1819). Semula ia membeli buku ini “iseng” saja. Tetapi setelah membaca buku itu sampai habis, ia segera menyatakan diri pada temannya bahwa ia sudah menjadi pengikut Schopenhauer.
Pada tahun 1867-1868, terjadi perang antara Jerman melawan Prancis. Ketika itu Nietzsche didaftar sebagai anggota dinas militer. Meskipun amat tidak senang dengan tugas itu, akhirnya ia tetap melaksanakannya. Selama menjalani dinas militer Nietzsche mendapatkan banyak pengalaman yang tak terduga sebelumnya. Ia mengalami kecelakaan (jatuh dari kuda) dan terpaksa dirawat selama satu bulan di Naumburg. Ia juga menyaksikan peristiwa-peristiwa tragis sebagaimana terjadi pada setiap perang. Seluruh pengalaman ini menimbulkan kegoncangan dalam dirinya. Ia mulai bertanya pada dirinya: melanjutkan studi filologi atau studi lain. kini ia merasa bahwa belajar filologi itu hambar dan mati. Ia ingin belajar sesuatu yang menarik untuk hidup.
Sekalipun di Pforta Nietzsche sudah mengenal karya-karya musikus Richard Wagner, baru pada 1868 ia benar-benar merasa “jatuh cinta” pada musikus Jerman ini. Pengalaman ini terjadi ketika ia menyaksikan pementasan musik Tristen dan Meistersinger.
Dua belas hari kemudian ia dapat berjumpa dengan Wagner secara pribadi untuk pertama kalinya. Perjumpaan itu membuatnya yakin bahwa ternyata kebebasan dan karya yang sangat jenius itu masih mungkin dicapai. Dalam musik Wagner, Nietzsche meliha

Rabu, 09 Maret 2016

Politik

Mencermati Masalah Pasar di Lewoleba
Dai Within Daniel
            Malam itu, persis di tahun 2004, malapetaka menyapa Lembata. Sebuah pasar Inpres di Lewoleba terbakar. Malam itu lalu menjadi malam yang paling dikutuk sepanjang sejarah berdirinya kabupaten itu. Isak tangis para pedagang pecah di mana-mana. Hari itu jatuh pada bulan Maret, sebelas tahun silam. Bayangkan, kerugian mencapai miliaran rupiah, sayangnya kurang digubris pemerintah. Ada desas-desus bahwa pasar ini terbakar akibat tegangan listrik. Ada pula karena puntungan rokok yang  tidak sengaja dijatuhkan, berubah menjadi raksasa yang melahap tanpa sisa. Sebab-musebab ini beredar begitu cepat. Masyarakat lalu percaya  tanpa banyak tanya.
            Beberapa bulan setelah kejadian itu, muncul lagi desas-desus dan masih tentang topik yang sama. Pasar bukan terbakar tapi pasar dibakar. Gawat. Sang dalang mulai panik, barangkali.  Skenario mulai bergeser. Terlepas dari benar dan tidaknya, tetap ada kemungkinan untuk keduanya.  Puji Tuhan, hingga kini kasus itu didiami begitu saja. Hilang tanpa bekas. Sang (dalang?) boleh merasa legah.
Pasar Pada Vs Pasar Lamahora
            Akhir-akhir ini, Lembata cukup meramaikan media massa lokal. Berita dari yang baik jarang ditemukan, tapi yang sebaliknya malah tak terhitung. Mulai dari anggota dewan versus bupati hingga bupati versus pedagang. Tidak hanya ramai, tapi juga seru. Kontroversi terakhir yang paling menegangkan adalah polemik  soal keberadaan pasar. Pasar, sejak dulu hingga  sekarang, kapan masalah pasar di Lewoleba bisa lumpuh?
            Pasar Pada dan Pasar Lamahora diresmikan sesaat sesudah  pasar Inpres Lewoleba  hangus. Kedua pasar ini dibangun dengan maksud agar para pedagang di Pasar Inpres Lewoleba boleh menduduki tempat yang baru. Dalam bahasa lain, agar para pedagang ‘merasa’ diperhatikan. Apa boleh buat, para pedagang hanyalah orang kecil, mudah diberdayai. Beberapa kalangan menilai ini sebagai siasat politik golongan tertentu. Katanya, di lokasi ini hendak dibuat suatu proyek raksasa. Jika demikian, orang mesti  kembali merenung: pasar terbakar atau pasar dibakar? Mudah ditebak.
            Sesudah terbakarnya Pasar Inpres Lewoleba, secara otomatis para pedagang pun angkat kaki dengan membawa serta luka di dada. Sebagian ke pasar Pada dan sisanya memilih pasar Lamahora. Tiada pilihan lain. Maka secara otomatis pula, Lewoleba terbagi dua, timur versus barat. Pemerintah menarik napas legah: cita-cita luhur  tercapai. Konon, Pasar Inpres Lewoleba adalah pasar yang mempersatukan. Berbagai lapisan masyarakat di Lembata bertemu di tempat ini. Tapi, kini tidak lagi.
            Dalam perjalanan waktu, Pasar Pada mulai ramai bahkan sangat ramai. Sebaliknya, pasar Lamahora justru menjadi sepih. Para pembeli bisa dihitung dengan jari. Para pedagang di Pasar Lamahora menjadi jenuh menjaga sunyi. Mereka  lalu serempak membuat kesepakatan:  beramai-ramai pindah ke pasar Pada. Konsekuensinya, mereka mesti merogoh kocek sebab jaraknya tidak dekat. Apalagi para pedagang  dari Ile Ape dan Kedang, bisa-bisa kewalahan. Alhasil, Pasar Lamahora menjadi kosong. Aktivitas jual beli lenyap. Sadisnya, tempat ini kemudian menjadi tempat bermain  kambing-kambing milik warga sekitar. Ironi, dari pasar menjadi kandang.
Kontroversi Pasar Senja TPI
            Pasar senja TPI adalah salah satu pasar yang terletak di pinggir kota Lewobeba, tepatnya di pinggir pantai. Dari namanya saja, kita langsung tahu apa dan bagaiamana pasar senja. Pasar Senja TPI ini bisa dibilang cukup ramai. Pengunjungnya selalu berdesakan manakala senja menyapa.  Awalnya dimanfaatkan untuk berjualan ikan, tapi kemudian tidak selalu demikian. Pasar ini didirikan empat tahun lalu berdasarkan kebijakan  bupati Sunur. Lantas, mengapa  berbuah kontoversi?
            Pada dasarnya, (Pasar Senja) TPI dibangun bukan sebagai pasar, tapi hanya sebagai pempat pendaratan ikan (TPI). Di tempat ini, sejatinya hanya ada ikan. Namun dalam perjalanan, pasar ini berubah fungsi. Para pedagang terus bertambah dalam jumlah hingga membludak. Apa yang diperjualbelikan pun kian bervariasi. Di tempat ini, aktivitas pasar  berjalan sepanjang hari. Masalah baru muncul lagi.
             Para pedagang di Pasar Pada melakukan aksi protes. Mereka menuntut agar pemerintah secara bijak memfasilitasi aktivitas jual beli di Pasar Senja TPI.  Merasa tidak ditanggapi, para pedagang Pasar Pada memutuskan untuk berjualan di Taman Kota.  Segala aktivitas jual beli diadakan di Taman Kota.  Jumlah mereka sekitar dua ratusan, sebuah jumlah yang tidak sedikit.  Soal ini, banyak orang menilai sebagai sebuah  pemberontakan terhadap penguasa Lembata. Namun penguasa lembata tetap merasa tenang-tenang saja. Pada level ini, sebetulnya ada yang tidak beres. Aneh!
            Berita terakhir menyebutkan, para pedagang di Taman Kota semakin terorganisir. Mereka membentuk badan pengurus. Petugas keamanan serta kebersihan pun tidak luput. Bagi mereka, dengan begitu pasar selalu aman dan bersih. Setidaknya mereka punya dasar jika aparatur pemerintah menggusur mereka dengan dalil demi kebersihan kota.  Sekarang, pasar di Taman Kota lebih ramai jika dibandingkan dengan Pasar Senja TPI. Taman Kota dahulunya adalah lokasi Pasar Inpres, lalu sekarang dijadikan lagi sebagai pasar. Lucu, bukan?
Eliminasi atau Fasilitasi?
            Masalah pasar di Lewoleba memang kompleks. Betapa pun juga, pasti ada solusi. Selama ini, pemerintah belum menemukan benang merah karena kurangnya komunikasi.  Oleh karena itu, sikap saling terbuka perlu dibangun demi situasi Lewotana Lembata yang lebih bermartabat. Adapun beberapa solusi yang bisa dipertimbangkan.
Pertama, eliminasi. Dalam Perda Nomor 12 tahun 2004 secara terang menunjukkan bahwa hanya ada dua pasar di Lewoleba, yakni pasar Pada dan Pasar Lamahora.  Aksi protes para pedagang Pasar Pada sebetulnya serentak hendak menegakkan perda. Bila pemerintah ingin konsisten, maka Pasar Senja TPI semestinya ditutup.  Jika pemerintah tetap menginginkan berdirinya Pasar Senja TPI, maka Perda Tahun 2004 itu perlu direvisi. 
Kedua, fasilitasi. Masalah pasar di Lewoleba sebetulnya juga masalah waktu. Andaikata pemerintah secara cermat mengatur waktu, maka tidak akan ada problem seperti sekarang ini. Tapi rupanya, pemerintah setempat selalu menutup mata. Semestinya pemerintah sudah bisa menduga ketika secara jelas ada indikasi bahwa Pasar Pada mulai sepih pengunjung. Sebaliknya, pemerintah baru kaget ketika Para pedagang Pasar Pada mulai menggelar aksi protes. Ini yang salah. Maka dari itu, pemerintah harus bisa memulihkan situasi dengan cara mengeluarkan aturan yang jelas mengenai jadwal aktivitas baik di Pasar Senja TPI maupun di Pasar Pada. Aturan ini hendaknya dibuat secara cermat dengan mempertimbangkan esensi dari Pasar Senja TPI agar pada pedagang Pasar Pada tidak merasa dirugikan.
            Problematika ini hanya akan terpecahkan jika ada kesediaan, termasuk kesediaan pemerintah untuk duduk bicara soal nasip para pedagang. Mesti ada keadilan. Kasihan kalau nasip mereka dibiarkan terkatung-katung tanpa ada arah yang pasti. Apalagi Pasar Pada, miliaran rupiah sudah dihabiskan untuknya, bukan?